[SELARAS] Genosida Intelektual di Kampus UGM 1965

4034008884103

Pembicara: Abdul Wahid, S.S, M.Hum. (Pengajar Sejarah FIB UGM)
Moderator: Willy Alfarius (Sej ’14)
Notulen : Tyassanti K.D (Ark ’14)
Senin (14/3), tepatnya pukul 16.15, sebuah ruang kelas di Margono lt.4 telah penuh terisi manusia. Ya, kemarin sore SELARAS hadir lagi! Tema yang diusung kali ini adalah Genosida Intelektual yang terjadi di kampus UGM pada tahun 1965. Bersama Bapak Abdul Wahid, Dosen Sejarah FIB UGM, isu inipun dikupas tuntas selama kurang lebih satu setengah jam. Pembahasan awal dimulai dari hak dan kebebasan-kebebasan akademik yang menjadi esensi dari sebuah kampus, karena hal tersebut dapat menciptakan demokrasi dan open society. Setiap manusia, khususnya mahasiswa, bebas untuk mendapatkan pendidikan dan beasiswa, melakukan penelitian serta kebebasan berekspresi. Selanjutnya berlanjut ke data perkembangan universitas pada kurun waktu tahun 1959-1963, di mana universitas-universitas mulai banyak didirikan serta banyak pula menerima mahasiswa dari berbagai kalangan.
Di kurun waktu yang sama, Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi mengajukan kredonya, yakni MANIPOL-USDEK. Selain itu, tiga partai terbesar (PNI, NU, dan PKI) juga sedang marak-maraknya mengobarkan semangat ideologinya. Hal-hal ini menyebabkan kampus cepat menjadi sarana politisasi; kampus digadang-gadang menjadi alat revolusi untuk ikut menyosialisasikan MANIPOL-USDEK, mendukung Koalisi Internasional dari NEFO dan propaganda anti imperialis. Di intern mahasiswa kampus sendiri juga terbagi menjadi beberapa golongan, agamis dan sekuler (nasionalis, komunis). Perkumpulan-perkumpulan ini rupanya berafiliasi pula dengan partai-partai politik pada saat itu; mereka menjadi perpanjangan tangan dari partai-partai besar yang berada di luar kampus. Tak hanya berhenti sampai di situ, penawaran kerjasama dan bantuan/hibah/donor juga seakan ikut bermain andil, bantuan diberikan oleh blok barat dan blok timur di beberapa fakultas di UGM. Kondisi kampus sudah seperti kancah percaturan politis hingga tiba suatu turning point pada tahun 1965.
Pasca peristiwa yang terjadi di pusat, pemerintah menjadi membabi buta melakukan screening di mana-mana, tak terkecuali di institusi pendidikan seperti kampus. Semua yang “kiri”, dekat dengan “kiri”, datang seminar atau diskusi “kiri” pun ditangkap, diinvestigasi, ada pula yang berujung ditahan dan di-Buru-kan. Setelah proses screening ini, kampus ditutup selama kurang lebih tiga bulan, bahkan di kampus lain ada yang lebih dari tiga bulan, semuanya kacau dan teror ketakutan seakan disebar begitu saja. Mungkin terbersit di benak teman-teman sekalian, bagaimana sih kok bisa banyak yang terjaring.. Rupanya, sistematika penekanan ini datang dari pihak militer yang menekan rektor, kemudian rektor terpaksalah harus menekan dekan. pola ini terus dilakukan, meski tak ada yang terjaring, sehingga seakan harus mencari pihak yang dapat dijadikan korban. Semua dipaksa untuk benar-benar membersihkan, meskipun sebenarnya kerap yang diserahkan adalah bukan yang ikut-ikutan. Alhasil, akibat dari ‘kegiatan’ ini sangatlah banyak dan terasa hingga sekarang, bahkan padah tahun 1966, Indonesiapun defisit guru hingga perlu dibuka sekolah darurat untuk mencari guru yang dapat mengisi kekosongan ini. Tradisi diskusi dan menulis pun seakan lenyap, kampus sepi, sarjana-sarjana yang diluluskan pun tidak seberkualitas seperti sebelum tahun sebelumnya.
Yah, inilah yang disesal dan diratap sekarang, Indonesia sudah kehilangan satu generasi pemikir, bahkan kebiasaan diskusi dan menulis juga telah terkikis. Normalisasi Kampus bukanlah yang diperlukan saat ini, melainkan terus membangun diri dalam kekritisan dan ketajaman pikir.

Kementerian Kajian Strategis
LEM FIB UGM
Kabinet Asakarta
#BudayaKaryaNyata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *