[OPINI] NASIB BONBIN: IRONI TEMPAT MEMANUSIAKAN MANUSIA

17368

Oleh: Hendy Pradiska, Sekjend LEM FIB HOKUBA 2015

Awal tahun Saya habiskan dengan merenungi keresahan yang ada di sekitar Saya beberapa minggu ini. Ya, ada Bonbin yang mau di reboisasi karena kurang hijau, eh, direlokasi karena “kok kantin begitu” dan KKN vs. UKT yang lama-lama seperti cicak vs. buaya. Akan tetapi, tanpa mengabaikan polemik KKN, kegundahan Saya tentang nasib Bonbin semakin memuncak hingga saya harus menuliskan unek-unek ini.

Kantin Humaniora atau Bonbin adalah tempat fungsional yang digagas oleh Prof. Koesnadi Hardjasoemantri, orang yang juga menggagas KKN sebagai wadah pengabdian. Mendengar kata humaniora, Saya jadi tergelitik mencari tahu mengapa Bonbin erat hubungannya, bahkan diberi nama Kantin Humaniora Mandiri UGM. Tentu, ini bukan lagi sekadar Bonbin yang berada di klaster sosial-humaniora.

Secara leksikal, KBBI mengartikan Humaniora adalah ‘ilmu pengetahuan yang berusaha memanusiakan manusia’. Pada banyak artikel, humaniora digadang-gadang mampu membuat manusia menjadi manusia seutuhnya, tentu manusia yang memanusiakan manusia. Pada tahap ini saya langsung menemukan satu korelasi. Bonbin tidak saja bernama humaniora, tetapi Bonbin juga menjadi tempat memanusiakan manusia. Jangan salah, beragam diskusi hingga pelajaran hidup dapat ditemukan di kantin dengan kemurahan harga dan senyum penghuninya setiap hari. Bahkan, pada tahap ini Saya berani menyatakan Bonbin adalah bukti nyata, dari rasa kemanusiaan Prof. Koes hingga bagaimana menjadi manusia seutuhnya. Jelas, kini kita dapat memaknai Bonbin bukan lagi sekadar kantin biasa.

Lucu, saya mengetahui adanya wacana relokasi Bonbin dengan alasan reboisasi dan “kantin kok gitu”. Jawabannya, mereka mungkin belum belajar tentang humaniora. Tidakkah kasat mata banyak manusia di Bonbin? ada pedagang, ada mahasiswa, ada alumni, ada karyawan dan dosen, ada banyak manusia, kan? Sampai tahap ini, Saya tegas menyatakan relokasi Bonbin bukan lagi kejahatan atas Yu Par, melainkan kejahatan atas kemanusiaan!

Kalau begitu, Ayo kita duduk bersama di Bonbin. Sambil makan dan minum dengan harga yang murah, renungkan kembali ihwal humaniora, ihwal kemanusiaan. Sudahkah kebijakan tersebut memanusiakan manusia? Saya kira, apapun masalah di Bonbin harus diatasi dengan asas humaniora, asas memanusiakan manusia. “kantin kok gitu” jangan menjadikan relokasi sebagai satu-satunya jalan keluar, hmm, tapi lakukanlah kalau memang kami yang ada di Bonbin tidak dianggap manusia, karena jelas Anda tidak memanusiakan kami. Berbagai alternatif yang lebih memanusiakan manusia seperti RENOVASI jelas harus dipertimbangkan. Sampai tahap ini, Saya memohon maaf kepada penguasa kampus, humaniora akan terus “menyapa” Anda sampai keputusan Anda memanusiakan manusia.

Dalam peringatan mengenang perjuangan Prof. Koes, atas nama kemanusiaan.

Hendy Pradiska

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *