[RILIS] #SAVEBONBIN #RENOVASIBUKANRELOKASI: SEBUAH SIKAP

45921

“Pedagang hanya diberi dua opsi mas, pindah di lembah atau pindah ke kantin baru FIB dengan harga sewa sesuai kebijakan FIB. Kami maunya Bonbin tetap di jalan Soshum mas…” – Wisnu, pedagang majalah dan pulsa Bonbin FIB

Curahan hati pedagang Bonbin seperti kutipan di atas bukanlah curahan pertama yang kami dengar. Sebelumnya, ayah dari Wisnu – Pak Tukino – bahkan pernah menitipkan sebuah petisi kepada kami terkait penolakannya terhadap relokasi Bonbin:

– Yang mengusik keberdaan Pedagang di Bonbin adalah tidak tahu Sejarah dan tidak menghargai Ekonomi Kerakyatan Bp. Prof. Dr. Koesnadi Hardjo Soemantri, S.H.
-Beliau tahu bagaimana menuntaskan kemiskinan / orang miskin / wong cilik, tanpa meninggalkan orang / Rakyat miskin.
– Kami di Bonbin FIB UGM, berharap bapak-bapak dan Ibu-Ibu di UGM tanpa terkecuali, berempati pada kami / Pedagang.
– Sudah sekian lama kami merintis pasaran dan sudah banyak berkorban
Ttd Pak Tukino
——————————————————————-
“Bagaimana Universitas mau dihargai orang lain, mas, kalau kantinnya saja masih ada yang seperti itu . Jujur saya sendiri juga kurang sreg dengan namanya, Bonbin, kok kesannya kurang enak didengar..” – Prof. Ir. Henricus Priyosulistyo, M.Sc., Ph.D (Direktur Direktorat Aset UGM)

Curahan hati di atas disampaikan oleh pihak Direktorat Aset saat hearing pertama antara mahasiswa dengan Rektorat. Curahan hati ini mengenai keadaan Bonbin yang sangat memprihatinkan. Kalimat “seperti itu” – sebagaimana yang dijabarkan oleh Profesor Henricus — mengacu pada keadaan kantin bonbin yang “suram” dan tidak bersih. Bangunan yang terkesan gelap ini menurut beliau membuat suasana taman Soshum kelak menjadi kurang harmonis. Hal ini akan menghambat terwujudnya misi UGM menjadi kampus Edukopolis – yaitu kampus dengan lingkungan yang hijau dan kondusif untuk mendukung proses pembelajaran. Belum lagi soal kebersihan Bonbin yang dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap kualitas lulusan UGM kelak. Jikalau mahasiswa tidak mengkonsumsi makanan yang sehat, kedepannya mereka akan jadi lulusan yang pintar tetapi sakit-sakitan. Begitulah kurang lebih curahan hati yang coba disampaikan Rektorat kepada kita.

NB: Kami sengaja sama-sama menyebut pernyataan pedagang dan Direktorat Aset sebagai curahan hati. Supaya egaliter. Karena kita semua saudara.
——————————————————————-
Pada tulisan kali ini, kami akan menyampaikan bagaimana sikap kami terkait isu relokasi Bonbin. Sikap ini kami ambil berdasarkan apa yang telah kami dapatkan selama dua bulan lebih mengawal isu ini. Selama 2 bulan lebih kami telah mendapatkan cukup banyak informasi, curhatan, maupun harapan dari dua pihak utama yang berkepentingan, yaitu pedagang Bonbin dan Direktorat Aset. Berpijak dari informasi-informasi itulah kami sepakat untuk MENOLAK RELOKASI BONBIN.
Jikalau menolak relokasi, apa solusinya?

Dalam kasus Bonbin, sebenarnya ada dua subjek utama yang masing-masing memiliki kepentingan berbeda. Pihak pertama adalah Universitas dengan obsesinya menjadi kampus edukopolis, sedangkan pihak kedua adalah pedagang yang mana mengandalkan berjualan di bonbin sebagai penunjang hidup.

Menurut kami, solusi terbaik dari kasus bonbin ini adalah TIDAK MELAKUKAN RELOKASI, lalu menekan pihak universitas untuk MELAKUKAN RENOVASI. Mengapa renovasi? Ide tentang renovasi ini sebenarnya justru berasal dari kritik Direktorat Aset sendiri mengenai bangunan Bonbin yang “suram” dan tidak layak berada di lingkungan yang hijau.

Menurut kami, jikalau bangunan yang gelap dan suram tidak layak untuk berdiri di sebuah taman yang hijau, bukankah lebih masuk akal jika universitas mencoba merenovasi bangunan tersebut supaya bisa menjadi bangunan yang pantas? – Dalam artian lebih bersih, nyaman, dan tidak suram.

Apakah untuk merapikan dan menghijaukan kampus, maka satu-satunya jalan adalah dengan merobohkan bangunan Bonbin? Apakah layak jika masalah kebersihan diselesaikan dengan pembersihan?

UGM dengan ribuan sarjana arsitekturnya kami rasa tidak akan kesulitan untuk bisa merancang sebuah kantin dengan kriteria tersebut. Kalau dalam bahasanya Mas Heru Bonbin, “Kan bisa Bonbin dijadikan kantin di tengah taman?”.

Apakah ini permintaan yang “nglunjak”? Saya rasa tidak. Justru solusi inilah yang akan memuaskan banyak pihak dan tidak mengundang konflik baru. Toh, kalau bicara soal dana, mau renovasi atau relokasi ke Lembah, Universitas tetap saja harus mengeluarkan dana. Belum lagi konflik susulan yang pasti akan terjadi jika pemaksaan relokasi ke Lembah tetap dilakukan. Misalnya resistensi pedagang lama dan sulitnya mahasiswa untuk mengakses lembah UGM secara aman dan cepat.

Maka sekali lagi, kami rasa renovasi Bonbin menjadi pilihan yang lebih bijak dan masuk akal. Siapa yang akan diuntungkan? Yang pertama, tentu saja bagi pihak pedagang, mereka akan tetap bisa meneruskan mencari nafkahnya di tempat mereka sudah berpijak selama puluhan tahun. Kedua, Dengan memilih renovasi maka pihak universitas bisa mengimplementasikan dua visinya sekaligus, kerakyatan dan edukopolis.

Tentunya kita sepakat bahwa visi menjadi kampus Edukopolis tak selayaknya dianggap lebih penting dibanding visi menjadi kampus kerakyatan. Seperti apa yang diceritakan Pak Tukino, pada tahun 1978 Bonbin dibangun sebagai implementasi daripada visi ekonomi Kerakyatan. Kala itu Prof. Koes memperjuangkan para pedagang kaki lima di sembilan titik di UGM supaya mendapatkan tempat yang layak untuk mencari nafkah. Hampir 25 tahun berselang. Seandainya kini pembangunan dilakukan dengan mengorbankan nasib para pedagang kecil, bukankah ini pengkhianatan atas yang namanya Visi Kerakyatan? Maka solusinya #renovasibukanrelokasi !

Peran Mahasiswa Selanjutnya dalam Kasus Bonbin

Apakah masalah sudah selesai sampai disini? Tentu saja belum. Ada satu permasalahan kuat yang sebelumnya diangkat pihak direktorat sebagai alasan untuk merelokasi Bonbin, yaitu kebersihan Bonbin.

Dalam hal ini kami sepakat dengan pihak Universitas bahwa masalah kebersihan adalah masalah yang harus segera kita selesaikan — Tapi kami tidak setuju jika menyelesaikan masalah kebersihan dengan melakukan pembersihan.

Kebersihan Bonbin secara kasat mata merupakan permasalahan yang sudah sepatutnya tidak kita diamkan lagi. Maka, jikalau renovasi berhasil diwujudkan, maka peran Universitas dan mahasiswa sebaiknya tidak hanya berhenti sampai titik itu saja.

Selanjutnya, kawan-kawan mahasiswa perlu mengawal perbaikan kualitas kebersihan di kantin Bonbin misalnya dengan mengadakan Sekolah Pasar bagi para pedagang Bonbin. Sekolah ini merupakan pelatihan yang didalamnya berisi materi-materi penting seperti higienitas dan sanitasi makanan, manajemen penyajian, dan lain sebagainya. Selain itu, alangkah baiknya jika pihak Universitas bisa mengirimkan tim penilai kebersihan ke setiap kantin yang ada di Universitas Gadjah Mada guna membantu mewujudkan cita-cita menghasilkan lulusan-lulusan yang cerdas dan sehat.

Kurangnya kebersihan Bonbin juga bukan semata kesalahan pedagangnya. Selama ini disamping universitas yang kurang peduli terhadap masalah ini, mahasiswa sendiri belum memiliki kesadaran yang kuat untuk bersama-bersama menjaga kebersihan Bonbin. Terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang meninggalkan piring kotor dan sampah plastik diatas meja, atau membuang puntung rokok di lantai. Memang luar biasa meja bonbin ini ! Bisa jadi meja, asbak, tempat sampah pula !

Maka kedepannya kampanye tentang menjaga kebersihan kantin perlu untuk digembor-gemborkan. Tak hanya digembor-gemborkan, kampanye ini perlu dinarasikan secara masif dan berulang-ulang oleh kita semua.

Dengan terus mengawal kasus ini, setidaknya kedepannya mahasiswa tidak hanya terlibat dalam proses menolak relokasi bonbin (pra), namun kita juga berusaha bertindak langsung menjadi solusi untuk persoalan kebersihan yang juga akan berdampak terhadap masa depan kita semua (pasca).
—————————————————————————————
Tepat satu hari sebelum pergantian tahun, kami telah mengirimkan sebuah surat kepada Direktorat Aset UGM. Surat cinta ini berupa permohonan untuk mengadakan audiensi terbuka antara pihak pedagang, Direktorat Aset, dan tentu saja mahasiswa. Bersiaplah untuk berpartisipasi dalam gerakan ini. Kondisi sosial ini, mau tak mau menuntut jiwa intelektual mahasiswa kita untuk bertindak dan berpihak. Pertanyaannya, untuk siapa kita berpihak? Untuk mereka yang sudah mapan, atau untuk mereka yang bahkan tak mampu bersuara? Untuk obsesi pembangunan, atau demi visi Kerakyatan?

Mari peduli !

#savebonbin #renovasibukanrelokasi

Ttd,
Bonbiners…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *