[FEATURE] Bonbin Paan Tuch…..?!?

Tulisan ini adalah hasil karya kawan-kawan Dian Budaya yang sengaja kami muat di website LEM FIB supaya kami dapat dengan mudah menjawab pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul- terutama dari dedek-dedek Maba. “Bonbin itu apaan mas?”.
Dengan adanya tulisan di website ini, maka kami punya cara lebih efektif dalam menjawab pertanyaan tersebut. Nih buka web LEM aja !
——————————————————————————————-

“Kantin Peninggalan Koesnadi Hardjosomantri ini meninggalkan berbagai kepingan cerita. Mulai dari diskusi seputar keyakinan hingga kisah cinta sepasang kawula muda”

Nama lelaki itu Wiwik. Selepas merapikan dagangannya, ia menghampiri kami pada salah satu kursi di selatan Bonbin. Pada salah satu kantin peninggalan Koesnadi Hardjosomantri ini, pembicaraan kami buka dengan memperkenalkan diri, “Kami dari Dian Budaya, mas. Mau tanya-tanya tentang Bonbin.”

Wiwik pun memulai ceritanya, “Saya jualannya sejak lulus SMP, sekitar tahun 1997, tapi sedari kecil saya sudah sering main kesini”.

Wiwik, yang menjabat sebagai bendahara Bonbin, kemudian bertutur mengenai asal usul kantin dengan sepuluh kios yang terpisah sekat tembok ini. Dulu, Bonbin masih sempit, dengan rumput banyak bertebaran di atas tanahnya, bahkan satu gerobak di Bonbin bisa dipakai oleh tiga penjual yang berbeda. Dulu, suasana Bonbin masih seperti warung tepi jalan hingga pada tahun 2008 Mandiri memberi dana hibah sehingga Bonbin bisa jadi seperti sekarang ini. Bangku-bangku yang kini berjajar di Bonbin juga merupakan hibah dari Mandiri.

Wiwik lantas menceritakan asal-usul nama Bonbin. Sebagaimana sejarah pada umumnya, asal-usul nama Bonbin juga memiliki berbagai versi. Versi pertama adalah Bonbin sebagai tempat yang merepresentasikan kebon binatang karena lokasinya yang dekat dengan parkiran sastra yang dulunya masih seperti hutan penuh pohon sehingga terlihat seperti kebon binatang yang berisi bermacam-macam binatang. Versi kedua berasal dari alumni fakultas sastra yang lebih muda, bahwa Bonbin adalah singkatan dari kebon bintang, karena banyak individu yang dianggap sebagai public figure pernah singgah di Bonbin, seperti Duta So7, Cak Nun, dan Gugun Gondrong. Ada juga versi lain yang menyatakan bahwa nama Bonbin datang dari pedagang dan pengunjung Bonbin yang memiliki bermacam-macam rupa seperti binatang–ada yang seperti gajah, jerapah– sehingga seperti kebon binatang.
“Bonbin itu lebih tua daripada lapangan sastra dan gedung C FIB. Dulu gedung C adalah parkiran sastra. Fakultas Sastra kemudian diubah namanya menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Nama Bonbin yang dikenal di rektorat adalah rekadaya boga humaniora mandiri, tetapi disebutnya tetap bonbin sama anak-anak humaniora,” tutur Wiwik setelah meneguk air dari gelasnya.

Berbincang tentang Bonbin dengan orang yang telah berkecimpung sekian lama di dalamnya, tentu tidak bisa terlepas dari obrolan perihal hubungan antarmanusia yang terjalin karena sering berkunjung ke sini. Menurut Wiwik, interaksi yang terjalin di waktu lampau terasa lebih intens dan dekat dibanding sekarang. “Mungkin karena mahasiswa dulu bisa lulus lama, sedangkan sekarang ‘kan harus lulus cepat. Jadi, kalau sekarang bahkan ada mahasiswa yang sudah lulus, tetapi belum pernah main ke Bonbin. Dulu ‘kan mahasiswa ada yang tujuh sampai sepuluh tahun baru lulus, makanya sering nongkrong di Bonbin. Harga di Bonbin juga dulu lebih murah daripada sekarang. Dulu mahasiswa ngutang itu hal biasa, soalnya mengirim uang masih pakai wesel yang dikirim sebulan sekali, karena ATM belum ada.”

Sembari tertawa kecil, Wiwik menceritakan hal-hal unik yang pernah terjadi di Bonbin. “Dulu, mahasiswa UGM itu kebanggan pada korsanya kuat. Aku anak hukum, aku anak sastra; masih besar kebanggaan sama fakultasnya masing-masing. Nah, Bonbin itu tempat rembugan antar fakultas. Jadi, di sini aman-aman aja. Nggak ada orang tawuran,” ujar Wiwik.

Pemaknaan Bonbin sebagai sebuah ruang rembugan ternyata juga dilakukan oleh para pedagang di dalamnya. Para pedagang di Bonbin tidak sekedar mencari keuntungan tanpa mempedulikan keharmonisan hubungan antar pedagang, mereka juga membentuk sebuah komunitas yang menaungi kebersamaan mereka. Sembari menaikkan lengan kaosnya, Wiwik berbicara mengenai kegiatan dan kesepakatan yang terjadi diantara para pedagang di Bonbin, “Komunitas pedagang Bonbin itu dulunya punya agenda seperti arisan, tapi sejak tahun lalu kegiatan arisan sudah tak ada lagi. Kami juga punya kesepakatan bersama untuk menjual menu yang berbeda satu dan lainnya.”

Mengenai interaksi dengan mahasiswa, awalnya Wiwik merasa tidak terlalu percaya diri ketika harus berkomunikasi dengan mahasiswa yang dianggapnya jauh lebih intelek daripada dirinya sendiri. “Dulu saya minder kalau ketemu mahasiswa. Saya anggap mereka lebih pintar, tapi ternyata mereka welcome sama saya. Malah, saya jadi sering berdiskusi dengan mereka. Dari proses diskusi itu saya mendapat banyak tambahan pengetahuan dan informasi,” tuturnya. Wiwik bahkan pernah diajak berdiskusi mengenai keyakinan oleh orang yang berbeda keyakinan dengannya. “ Bagi saya keyakinan itu hanya benar bagi penganutnya saja”, ujar Wiwik mantap.

Sembari mendengar riuh rendah kicau dua ekor burung dalam sangkar, obrolan berlanjut ke pengalaman menarik Wiwik yang sering menjadi tempat sharing mahasiswa. Sharing teraneh yang dialaminya yaitu ketika mahasiswa tiba-tiba datang lantas curhat mengenai asmara. “Padahal saya nggak terlalu kenal orangnya. Cuma tahu mereka itu pacarnya siapa, dan saya juga kenal pacarnya. Saya tahu mereka sebenarnya sudah memiliki solusi atas permasalahan mereka, cuma mereka butuh pelampiasan, maka mereka curhat ke saya supaya dapat saran dan diyakinkan. Kan kalau mereka cerita ke temen seumuran gak akan digagas, jadi tanyanya ke saya yang lebih tua. Jadi saya cuma ngasih pembanding bukan patokan. Kan ada banyak jalan untuk mencapai sebuah tujuan.”

Menyinggung aktivitas band-band-an di Bonbin, Wiwik bercerita bahwa dulu lebih banyak band yang tampil di Bonbin. Terkadang penampilan band itu untuk menggalang dana. “Karena ‘kan dulu tidak diberi dana dari fakultas seperti sekarang, jadi satu-satunya cara untuk mendapatkan uang adalah dengan penggalangan dana sendiri seperti ngeband itu,” tandasnya. Wiwik mengakui pula bahwa band-band-an di Bonbin zaman dulu lebih bagus, apalagi waktu itu band sebangsa Jikustik, So7, dan Tipe-x sedang in, sehingga kegiatan band-band-an juga lebih mending daripada sekarang.

“Banyak itu mahasiswa yang sekarang jadi orang. Jurusan-jurusan di fakultas sastra memang bukan jurusan profesi, jadi ya istilahnya kalau di fakultas sastra kuliah cuma kuliah doang gak bakal dapat ilmu. Ilmunya ‘kan justru didapat dari srawung, bergaul dengan sesama. Sebenarnya ilmu bisa didapat dari buku, tetapi pengetahuan dari srawung,” pungkas Wiwik mengakhiri perbincangan dengan kami. (Venda, Cici, Santi, Sanya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *