[RILIS] DIALOG BERSAMA DIREKTORAT ASET “RELOKASI BONBIN, SERIUS?”

254115

Bagaimana Universitas mau dihargai orang lain, mas, kalau kantinnya saja masih ada yang seperti itu. Jujur saya sendiri juga kurang sreg dengan namanya, Bonbin, kok kesannya kurang enak didengar..” – Prof. Ir. Henricus Priyosulistyo, M.Sc., Ph.D (Direktur Direktorat Aset UGM)

Jumat (27/11) lalu, beberapa mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya yang berasal dari LEM (Lembaga Eksekutif Mahasiswa) FIB UGM dan Dian Budaya berjalan bersama menuju Gedung Rektorat. Siang itu pukul 13.00 rupanya sudah ada agenda untuk berdialog dengan pihak Direktorat Aset mengenai rencana relokasi Bonbin dan pembongkaran Taman Soshum. Kami disambut dengan hangat oleh pihak Direktorat Aset yang pada saat itu diwakili oleh Bapak Budi atau Bapak Henricus Priyosulistyo (Direktur Direktorat Aset UGM) , Bapak Edi Prasetyo (Kasubdit Sarana) dan juga Bapak Sulistyo Mardiatmoko (Ketertiban Lingkungan, Pengelolaan Parkir, dan Sepeda Kampus). Setelah berbasa basi beberapa waktu, maka kami pun mulai mengangkat wacana yang kami bawa siang itu.

Kantin humaniora mandiri atau yang kerap disebut sebagai Bonbin, adalah sebuah tempat makan multifungsi yang berada di kawasan Soshum, tepatnya di bagian utara Fakultas Ilmu Budaya. Letak kantin yang tidak begitu jauh dari fakultas-fakultas lain dan juga banyaknya menu yang tersedia membuat konsumennya pun beragam; ada dari hukum, filsafat, ekonomi, psikologi dan lain-lain. Kantin ini telah berdiri sejak lebih dari 20 tahun dan terkenal sebagai “sarang” diskusi mahasiswa dari generasi ke generasi. Namun, Bonbin yang legendaris ini sedang terancam akan direlokasi. Penyebab relokasi antara lain menyangkut masalah kebersihan, kesehatan, dan juga pembangunan ruang terbuka hijau di jalan Sosio Humaniora.

Pihak Direktorat Aset mengungkapkan bahwa alasan utama relokasi bonbin adalah masalah kebersihan. Terutama tampilan visual yang sehari-hari dapat dilihat banyak orang dengan kasat mata. Penampilan Bonbin yang “seperti ini” pun juga sudah dikritik oleh banyak pihak, katanya, “Kok di UGM masih ada bangunan seperti ini, ya?”. Dinding yang hitam, lantai yang kadang bertebaran abu rokok,kios yang becek dan juga piring-piring yang belum sempat dibereskan terkadang menguatkan kesan kurang bersih tersebut. Begitu pula masalah kesehatan, banyak makanan yang kesehatan dan kehigienisannya kurang terjamin, seperti digoreng dengan minyak yang sudah dipakai untuk menggoreng berkali-kali dan juga tempat makan yang terlalu dekat dengan tempat cuci piring, sehingga terkesan sedikit kumuh.

Mengenai rencana pembangunan FIB yang berimbas pada bonbin sebenarnya masih belum terlalu jelas dan belum terlalu kuat jika dijadikan alasan relokasi. “Kurang harmoni, mas kalau Bonbin ada di situ, kan di sekitarnya kawasan hijau”, begitu tandas pak Budi, salah satu perwakilan dari Direktorat Aset siang itu. Rencana pemindahan Bonbin telah menjadi keresahan tersendiri bagi para pedagang dan juga pelanggan setianya. Pihak pedagang masih ingin tetap berjualan di situ, karena mereka masih memikirkan tentang kelanjutan usaha mereka jika dipindahkan dan juga biaya sewa yang dikhawatirkan akan mencekik. Sempat ada persetujuan mau direlokasi, tetapi dengan catatan seluruh pedagang di Bonbin harus dipindahkan bersama-sama (12 pedagang). Nama-nama lokasi yang sempat menjadi calon tempat baru Bonbin antara lain adalah basement lapangan Pancasila dan juga kawasan Pujale (Pusat Jajanan Lembah). Namun pada dialog kali ini ditegaskan bahwa kemungkinan paling besar adalah Bonbin akan dipindahkan ke kawasan Pujale. Hal ini, menurut Pak Budi, sudah sesuai dengan rencana dan perhitungan yang mereka perkirakan. Bonbin yang masa sewanya sebenarnya telah habis pada Juli 2015 lalu, sengaja diperpanjang kontraknya selama setahun sehingga setelah pembangunan di Pujale selesai, mereka bisa langsung direlokasi ke sana. Selain itu, Pujale menjadi lokasi yang paling dirasa cocok karena di sana ada UPTnya sendiri dan diyakini kawasan lembah ke depannya akan semakin ramai sehingga nasib pedangang Bonbin tentu akan lebih makmur di sana. Isu yang beredar sebelumnya bahwa satu kios akan digunakan dua pedagang dan juga tarif sewa yang lebih tinggi pun juga dibantah, karena pihak Direktorat Aset sudah mempersiapkan dengan pasti perihal kios-kios yang akan ditempati oleh para pedagang di sana beserta biaya sewa yang tidak akan melambung tinggi. Bahkan ditegaskan lagi oleh Pak Edi bahwa jika Bonbin sudah ditempatkan di Pujale, maka tidak akan terancam untuk dipindah-pindah lagi, alias sudah bisa menetap dengan tenang. Masalah kebersihan juga sudah diatur, diusahakan adanya sosialisasi dan himbauan supaya pedagang tidak memasak di kios, melainkan sudah membawa masakan dari rumah, sehingga tidak perlu memasak dan menghasilkan sampah lagi.

Relokasi Bonbin ke kawasan Pujale selain memberi efek kejut bagi pedagang, rupanya juga mengagetkan para mahasiswa. Misalnya mahasiswa FIB yang merasa bahwa kantin fakultas terlalu sempit dan juga pilihan harga yang relatif lebih mahal dibanding harga di Bonbin. Lokasi Pujale yang relatif kurang dekat juga menyebabkan keresahan di kalangan Mahasiswa yang ingin makan atau minum di sela-sela jam kuliah yang padat. Selain itu arus kendaraan yang padat di jalan Notonegoro sempat menjadi kekhawatiran akan keselamatan para mahasiswa. Namun pihak Direktorat Aset kemudian menampik pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa besok jika sudah dipindah ke sana (re: Pujale), maka akan dibuatkan alternatif akses jalan lain bagi kendaraan bermotor sehingga volume kendaraan di kawasan lembah akan berkurang. Selain itu dijanjikan pula penambahan fasilitas berupa pemasangan WiFi, sehingga nantinya kawasan Pujale dapat menjadi kawasan yang nyaman, ramai dan bermanfaat bagi para pengunjungnya yang mayoritas adalah mahasiswa UGM itu sendiri.

Usai pemaparan mengenai Bonbin oleh Direktorat Aset, muncullah sebuah gagasan yang kemudian disampaikan oleh Bagus Panuntun selaku Presiden LEM FIB. “Bagaimana kalau Bonbin dibangun ulang saja, tidak usah dipindah? Kalau Cuma masalah kebersihan dan keindahan, mengapa harus dipindahkan?” Mas Bagus juga menambahkan bahwa relokasi ke lembah justru bisa menimbulkan konflik baru. Di samping protes dari pedagang bonbin yang memang tidak setuju, resistensi pedagang lama di lembah juga perlu menjadi hal yang dipertimbangkan pihak Direktorat Aset, belum lagi besarnya biaya relokasi dan pembangunan gedung baru di lembah. Menurutnya, membuat bangunan bonbin yang sudah ada menjadi lebih layak dan baik justru solusi yang lebih tepat dan humanis dibanding harus merelokasinya.

Andi Khaerul Umam dari pihak mahasiswa kemudian memberi saran lain supaya direktorat aset juga melakukan dialog dengan pihak dekanat FIB perihal relokasi bonbin. Menurutnya memindahkan pedagang bonbin ke FIB juga bisa menjadi solusi lain. Hal ini karena pada Dialog Bersama Dekanat yang pernah dilakukan HMJ BSO di FIB dengan jajaran dekanat, Pak Pujo Semedi selaku dekan FIB pernah mengungkapkan rencananya membangun kantin di gedung baru FIB yang saat ini masih dalam proses pembangunan. Pak Pujo mengungkapkan bahwa ia ingin membangun kantin baru yang bersih dengan harga sesuai mahasiswa. Suasana sempat hening sampai Pak Budi kemudian menanggapi pendapat Andi, “Lha, kalau boleh oleh pihak Dekanat FIB, ya monggo, kalau begitu sebenarnya bisa lebih murah.” Pak Budi juga mengamini pendapat Bagus bahwa jika dihitung-hitung ulang, antara relokasi dan pembangunan ulang akan lebih memakan biaya jika dilakukan relokasi.

Selain membahas Bonbin, kasus lain yang turut mewarnai diskusi siang itu adalah mengenai Taman Soshum. Dalam kesempatan ini pihak mahasiswa menyampaikan kritik terhadap bentuk arsitektur taman Soshum yang alih-alih memudahkan, justru menyulitkan langkah mahasiswa dalam berjalan menuju kampus. Taman Soshum yang sudah tiga kali mengalami pembongkaran rupanya cukup mencuri perhatian. Ketika ditanya mengenai pembongkaran ini, pihak Direktorat Aset menjawab bahwa pembuatan Taman yang pertama adalah merupakan hasil kerja dari Kementerian PU, sehingga Universitas tidak bisa ikut campur. Ketika pembangunan mulai terbengkalai dan wujudnya pun jauh dari rencana awal, pihak PU meninggalkannya begitu saja dan langsung dipegang oleh pihak Universitas. Pembongkaran pun dilakukan dua kali karena tiap kali dilakukan pembongkaran, selalu saja ada kritik untuk taman Soshum, sehingga untuk menyempurnakannya pun harus dilakukan secara berulang seperti ini. “Kami menerima banyak saran dan masukan demi kenyamanan bersama, mas, mbak.” jawab Pak Budi. Sementara itu, ketika ditanya mengenai dana yang dipakai untuk pembongkaran jalan Soshum ini, pihak Direktorat Aset mengungkapkan bahwa dana tersebut adalah dana pembangunan UGM yang menghabiskan dana hingga 30 juta rupiah.

Dari hasil diskusi yang sudah kami lakukan ini, pihak mahasiswa sepakat untuk terus mengawal isu relokasi bonbin dan pembongkaran taman Sosial Humaniora. Kami sepakat bahwa urusan kemanusiaan tak boleh dinomorduakan atas nama urusan pembangunan. Untuk langkah kedepannya, kami siap mengawal terlaksananya dialog terbuka perihal relokasi atau renovasi Bonbin. Dialog ini diharapkan akan melibatkan pihak mahasiswa, rektorat, dekanat FIB, maupun pedagang bonbin sebab pedagang bonbin pun kemungkinan sangat memerlukan sikap tegas atas kejelasan informasi yang beredar.

Ttd

DIAN BUDAYA dan LEM FIB UGM

2 thoughts on “[RILIS] DIALOG BERSAMA DIREKTORAT ASET “RELOKASI BONBIN, SERIUS?”

  1. begini, coba dipikirkan lagi jika ingin merelokasi. saya sering membeli kopi di bonbin ketika akan memulai kuliah jam ke-dua dan bahkan jam ke-3 yang waktunya sangat mepet. saya beli di bonbin karena pertama murah, kedua banyak pikihan, ketiga jaraknya dekat. bagaimana jika dipindah? saya akan mengantuk, jika memaksakan beli di lembah akan terlambat, jika beki di kantin sastra fib uang jajan saya akan menyuaut dengan cepat. coba dipikirkan lagi soal pedagang di bonbin, jika dipindahkan di lembah, maka jumlah pembelinya akan menyusut drastis. kasihan bukan? saya juga sudah membangun hubungan yang baik dengan anak dari fakultas lain yanv adalah rakyat bonbin.
    tolong, direnovasi saja. jika perlu minta persetujuan dekan FIB pak Pujo untuk memperbesar bonbin dan mrngambil tanah fib yabg dulunya adalah lapangan parkir.
    jika menunggu kantin baru fib akan membutuhkan waktu yang sangat lama. dan banyak mahasiswa habg akan mengeluh dengan ide relokasi bonbin, yang memang mempunya tempat yang mengerikan tetapi menjadi sumber penghidupan bagi kalangan mahasiswa .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *