[RILIS] Media Sosial dan Pembentukan Formasi Kesadaran Diri dalam Kegiatan Berwisata

Oleh: Khusnul Bayu Aji (Kadept Kajian Keilmuan Hokuba)

Perjalanan wisata tidak lagi dimaknai sebagai kegiatan untuk bersenag-senang semata.Seiring berkembangnya teknologi informasi, perjalanan wisata juga dimaksudkan untuk membangun identitas diri oleh berbagai kalangan.Dewasa ini perkara yang demikian dapat dengan mudah kita jumpai di berbagai jejaring media sosial.Banyak orang yang melakukan perjalanan wisata bersemangat mengunggah foto maupun informasi pribadi mereka selama melakukan aktivitas wisata.Dengan kata lain, media sosial merupakan alat yang efektif bagi wisatawan untuk melakukan publikasi privasinya.

Dampak yang ditimbulkan oleh publikasi privasi ini tidak hanya berpengaruh pada subyek yang melakukan aktivitas tersebut. Lebih dari itu, proses publikasi privasi juga akan menjalar pada subyek lain yang membaca atau mengetahui informasi yang disampaikan melalui media sosial. Salah satu bentuk pengaruh yang akan muncul pada diri subyek lain atau penerima informasi adalah muculnya hasrat, yang dalam konteks ini adalah untuk melakukan perjalanan wisata ke obyek atau daya tarik wisata tertentu. Hasrat yang timbul pun akan semakin kuat apabila si pemberi informasi atau subyek yang melakukan publikasi privasi adalah orang tersohor yang namanya sudah dikenal luas oleh khalayak ramai. Sebenarnya fenomena ini sudah banyak ditemui dan bukan merupakan hal baru dalam kehidupan sosial masyarakat, namun mari kita coba kaji perkara inimelalui pendekatan psikoanalisis Jacques Lacan, yaitu pendekatan terkait konstruksi ideologis tentang subyek.

Pendekatan psikoanalis Lacan yang berpusat pada bahasa mengarah pada pembentukan formasi kesadaran diri yang terbagi dalam tiga fase, yaitu fase imajiner, fase simbolik dan fase riil.Fase imajiiner atau stadium cermin dapat dipahami sebagai ranah sebelum ego mengerti bahasa. Lacan menggunakan contoh pada diri seorang bayi yang belum mencapai usia enam bulan. Seorang bayi pada usia ini belum dapat mengkoordinasikan anggota tubuhnya ke dalam suatu fungsi tertentu. Ia beum dapat membedakan dirinya dan dunia di sekitarnya. Pengertian tentang diri ini didapat melalui citra (imago) tentang dirinya dihadapan “cermin” –tentu saja, cermin ini dapat dimengerti tak hanya secara harfiah melainkan juga secara metaforis, misalnya dalam bayangan di permukaan air atau refleksi diri sang bayi di mata ibu. Dengan kata lain, diri diperoleh melalui persepsi citra visual (l’image speculaire) tentang dirinya (Suryajaya, 2014).

Untitled

Fase berikutnya adalah fase simbolik.Lacan merumuskan konsep ini dengan mengambil alih aplikasi teori strukturalisme milik Calude Levi-Strauss yang juga dipengaruhi oleh Ferdinand De Sausure.Tujuan Lacan merumuskan konsep fase simbolik adalah untuk melakukan pemetaan wilayah nirsadar manusia yang mengacu pada struktur penandaan atau bahasa.Menurut Martin Suryajaya (2015), Jacques Lacan menyebutkan bahwa ketaksadaran terstruktur seperti bahasa. Alasannya hasrat selalu berada pada wilayah ketaksadaran manusia dan hasrat sendiri merupakan hasrat orang lain yang diinternalisasikan ke dalam diri melalui tuturan, nasihat, sindiran, ekspektasi atau singkatnya melalui bahasa. Lacan mengatakan bahwa hasrat mesti dirumuskan sebagai hasrat yang lain (desir de l’Aure) sebab ia pada mulanya merupakan hasrat dari apa yang dihasrati Yang-Lain (desir de on desir).

Dalam konteks kegiatan berwisata, media sosial menjadi alat yang ampuh untuk “memaksa” calon wisatawan mengonsumsi keindahan yang ditawarkan oleh si wisatawan pemberi informasi.Proses seperti ini bisa dibilang sebagai perintah dari yang-Lain –si wisatawan pemberi informasi- yang menuntut agar calon wisatawan mengkoordinasikan hasratnya agar sesuai dengan kehendak dari yang-Lain tersebut. Melalui internalisasi hukum hasrat inilah, bagi Lacan, subyek terlahir.Dan senada dengan keidentikan struktur hasrat dan hukum seperti yang telah disebutkan, kelahiran subyek pun ditandai oleh keterbagian secara inernal, yakni antara subyek-yang-menyatakan (subject of statement) dan subyek-yang-mengutarakan (subject of enunciation). Kedua istilah ini diambil Lacan untuk menjelaskan perbedaan tingkat kesadaran dan ketaksadaran dalam laku berbahasa: subyek yang menyatakan adalah suatu kondisi ketika subyek mengatakan secara sadar apa yang ada dalam pikirannya, sementara subyek yang mengutarakan adalah landasan tak sadar dari pernyataan itu, yakni makna tak sadar dari pernyataan tersebut(Lacan dalam Suryajaya, 2015). Maka sebuah pernyataan yang diutarakan subyek dapat berarti lain jika ditilik dari intensitas tak sadarnya. Inilah yang disebut Lacan sebagai subyek terbagi (barred subject), yang dinotasikan Lacan dengan symbol $.Artinya, dalam tindak berbahasa sehari-hari pun seorang subyek selalu dibimbing oleh yang-Lain persis karena ketaksadaran –yang menjadi sumber asali dari setiap laku berbahasa- merupakan wilayah operasi yang-Lain melalui struktur penandaan (Suryajaya, 2015).

Beranjak ke fase riil, Lacan mengibaratkan subyek berada di dalam (internal) maupun di luar (eksternal) dalam waktu bersamaan.Artinya fase Riil adalah landasan dari yang imajiner dan yang simbolik namun sekaligus pada dirinya sudah tidak diketahui perbedannya.Dalam konteks pariwisata, berdasarkan konsep Lacan ini si penerima informasi atau calon wisatawan menghasrati perjalanan wisata sebagai sebuah penanda dari prestise,lifestyle, pelarian diri dari rutinitas ataupun mengunjungi tempat-tempat baru yang ditawarkan oleh si subyek atau wisatawan yang melakukan publikasi privasi.Artinya hasrat si penerima informasi atau calon wisatawan sebenarnya merupakan hasrat turunan yang terbentuk dari hasrat wisatawan yang terlebih dulu sampai di obyek atau daya tarik wisata, yang kemudian mengunggah informasi personalnya melalui media sosial tentang berbagai aktivitas wisatanya.

Berkembangnya era reproduksi teknis dalam media yang ditandai dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi fotografi, sinematografi dan perfilman bercitraan tinggi juga ikut berperan dalam proses internalisasi hasrat dari Yang-Lain –si pemberi informasi- kepada subyek penerima informasi. Walter Benjamin menggunakan terminologi “jarak” dan “dekat” untuk menggambarkan obyek yang telah direproduksi ke dalam realitas artifisial terutama yang terjadi dalam media.Cara kerja dari terminologi “jarak” dan “dekat” milik Walter Benjamin itu dapat dengan mudah kita jumpai dalam dunia pariwisata.Misalnya saja seorang wisatawan mengunggah fotonya ketika mengunjungi Raja Ampat di media sosial instagram. Bagi penerima informasi –calon wisatawan, proses tersebut telah memperpendek jarak, menjadikan Raja Ampat dekat dengan subyek penerima informasi ketika si subyek penerima informasi tersebut melihat Raja Ampat di akun media sosial wisatawan yang memberikan informasi. Singkatnya, “jarak” Raja Ampat bagi si penerima informasi –calon wisatawan- terasa “dekat” baginya di ruang visual, meskipun pada kenyataannya secara ruang spasial jaraknya sendiri sangat jauh.Diperpendeknya “jarak” akibat dipindahkannya ruang spasial ke dalam ruang visual melalui media sosial ini menimbulkan dampak yang mengarah pada “tersentuh”-nya obyek bagi subyek penerima informasi.

Dari situlah kemudian hasrat berwisata menjadi terbentuk.Buktinya dapat kita saksikan bersama hari ini.Berapa banyak obyek atau daya tarik wisata yang mendadak booming karena peranan media sosial.Padahal belum tentu obyek atau daya tarik wisata tersebut benar-benar memiliki keunikan maupun syarat-syarat utama yang meliputi something to see, something to do, something to buy, atausomething to learn.Belum tentu juga obyek wisata tersebut memiliki amenitas maupun aksesibilitas yang mumpuni serta daya dukung lingkungan yang layak untuk benar-benar dikunjungi oleh wisatawan khusunya secara masif.Begitu besarnya pengaruh teknologi informasi akhir-akhir ini termasuk media sosial telah menjajah persepsi dan emosi para subyek penerima informasi.Begitu pula yang terjadi dalam dunia pariwisata. Calon wisatawan tidak lagi mementingkan kenyamanan selama berwisata, tetapi lebih memilih mengoptimalkan perburuan eksistensi demi citra diri agar dianggap sama atau tidak ketinggalan zaman dari orang lain. Oleh karena itu, kemudian wajar apabila informasi, termasuk dalam dunia pariwisata diterima oleh subyek penerima informasi sebagai sebuah aletheia, sebagai sebuah wahyu yang berasal dari jauh, sebagai sebuah kebenaran mutlak.Tidak penting lagi darimana atau siapa pemberi informasinya, mereka mengonsumsinya dalam kondisi yang sangat mentah hingga dampak buruk dari sisi keberlanjutan obyek wisata tidak lagi menjadi satu hal yang dipentingkan.

Referensi

Suryajaya, Martin. 2015. Slavoj Zizek dan Pembentukan Identitas Subjektif Melalui Bahasa. Via Online: http://indoprogress.com/2015/06/slavoj-zizek-dan-pembentukan-identitas-subjektif-melalui-bahasa/

Zulkifli. 2014. “Art’s Fateful Hour: Benjamin, Heidegger, Art and Politics”. Resume Buku: Program Doktoral (S3), Program Studi Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. (tidak diterbitkan).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *