[RILIS ACARA] MASYARAKAT BUDAYA 2015: MENGABDI DI TANAH CAMPURSARI

            Besi-besi ‘riging’ dikerek naik. Obor-obor kecil menyala redup. Satu,dua, tiga orang mulai berdatangan, membentuk sebuah pola teratur, padat, khidmat. Di tempat lain, goresan-goresan ‘desaku’ tersusun rapi. Warna-warna bersatu-padu, indah. Lalu lantunan lagu ‘Ngidam Sari’ membumbung ke angkasa, memenuhi setiap rongga udara di desa itu. Sudah dimulai!

            Playen, sebuah desa kecil di Kabupaten Gunungkidul ini memang unik. Letaknya yang cukup jauh dari pusat kota membuatnya jarang dikenal oleh kebanyakan orang. Namun siapa sangka, dari desa inilah seorang seniman besar lahir. Dia adalah Anto Sugiarto atau lebih dikenal sebagai “Manthous”, bapak dan maestronya campursari. Desa ini juga menjadi saksi bisu bagaimana musik campursari lahir, berkembang, dan mulai terlupakan. Bahkan mungkin saat ini generasi muda mereka lebih kenal dengan musik pop daripada campursari. Musik campursari semakin terjepit oleh zaman. Jika dibiarkan, campursari hanya akan menjadi sejarah, dan menyusul penciptanya ke alam keabadian, lalu semuanya hilang dan terlupakan.

            Berawal dari sini lah ide pengabdian itu lahir. Sebagai lembaga eksekutif yang bernaung di bawah nama Fakultas Ilmu Budaya, LEM FIB merasa memiliki tanggung jawab untuk melestarikan budaya yang ada. Lalu ide itu bergulir, lambat laun semakin mantap dan mengkristal menjadi sebuah program yang diberi nama « Masyarakat Budaya ». Sebagai pelaksananya, ditunjuklah departemen Sosial Masyarakat (Sosmas).

            Program Masyarakat Budaya (Masbud) ini bertujuan untuk melestarikan budaya setempat. Selain itu, masbud juga diharapkan menjadi sarana belajar mahasiswa FIB untuk berinteraksi dan hidup di tengah-tengah masyarakat. “Ini adalah semacam mini KKN sehingga mahasiswa yang terlibat mau tidak mau harus belajar berinteraksi dengan masyarakat” ujar Bagus Panuntun, Presiden LEM FIB. Bagus juga berharap masbud bisa menumbuhkan jiwa kepedulian sosial mahasiswa yang menurutnya kini mulai luntur. “Menjadi kaya dan pintar itu baik. Tetapi kaya dan pintar tanpa punya kepedulian sosial kan justru bahaya”, tambahnya.

            Dalam pelaksanaannya, masbud mengusung konsep sustainable service. Artinya, program ini tidak hanya dilakukan sehari atau seminggu lalu selesai melainkan pengabdian yang berkesinambungan. Program ini terdiri dari beberapa tahapan, perkenalan, inti program, dan evaluasi. Program ini akan berlangsung selama kurang lebih delapan bulan dimulai dari November 2015. “Program akan dilaksanakan selama delapan bulan lalu akan diadakan evaluasi apakah program ini dilanjutkan atau tidak,” ujar Tohir Mustofa, Menteri Departemen Sosmas LEM FIB.

            Kemarin, Sabtu – Minggu, 07 – 08 November 2015 salah satu rangkaian program masbud telah terlaksana, yaitu perkenalan. “Acara yang berlangsung kemarin (sabtu dan minggu) menjadi semacam ucapan “kulo nuwun” kita kepada masyarakat setempat agar mereka tahu kami dan memahami program-program kami,” jelas Rinda Setiawati, ketua organizing committee. Acara terdiri dari Laktasi (pembagian susu gratis), cek kesehatan, lomba menggambar dan mewarnai, bakti sosial, dan pentas campursari tribute to Manthous. Dalam pelaksanaannya, LEM FIB bekerjasama dengan BEM Fakultas Peternakan UGM untuk acara Laktasi, BEM Fakultas Kedokteran UGM untuk acara cek kesehatan, dan Karang Taruna Desa Playen untuk program lainnya.

            Acara dimulai dengan Laktasi pada sabtu pagi di SDN Playen VI. Laktasi diawali dengan sosialisasi pentingnya susu bagi kesehatan. Sosialisasi ini dilakukan oleh kawan-kawan dari BEM Fakultas Peternakan dibantu oleh panitia. Acara dilanjutkan dengan pembagian susu gratis untuk siswa. Meskipun gratis, siswa diharuskan untuk memasukkan  uang koin berapapun itu ke sebuah kardus. « Ini bukan bayar, ini adalah bentuk pembelajaran bagi siswa bahwa segala sesuatu itu harus diiringi dengan usaha dan pengorbanan, » ujar Rinda.

            Siang hari, bertempat di balai desa Playen, panitia menyelenggarakan lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak desa playen. “Lomba menggambar untuk kelas 2 – 4 SD sedangkan lomba mewarnai diperuntukkan bagi siswa TK dan kelas 1 SD”, jelas Kiki selaku koordinator acara. Pada lomba ini panitia terpaksa harus memutar otak karena jumlah peserta jauh melebihi target. “Kami menargetkan 100 peserta sedangkan yang datang 180. Terpaksa kami harus pontang-panting untuk menutupi kekurangan konsumsi,” ungkap Rinda. Hasil karya peserta lalu di-display di balai desa sore harinya.

            Di saat yang bersamaan, diselenggarakan pula cek kesehatan yang merupakan hasil kerjasama LEM FIB dengan BEM FK UGM. Ada tiga macam cek kesehatan yang dapat dinikmati secara gratis oleh warga, yaitu cek gula darah, cek asam urat dan cek tensi. Sayangnya, antusiasme warga untuk mengikuti cek kesehatan ini tidak terlalu tinggi. Dari 50 slot yang disediakan oleh panitia untuk masing-masing jenis cek, hanya 40 yang terisi. “Sayang sekali warga tidak begitu antusias untuk cek kesehatan, padahal pada umumnya untuk cek sejenis biasanya seseorang harus membayar antara 15-20 ribu rupiah,” sesal Rinda.

            Selepas Isya’, acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai, pentas campursari tribute to Manthous. Acara pentas campursari diisi oleh penyanyi campursari kondang seperti Cak Dikin, Mbak Minul, Dimas Tedjo, dan Mas Hardjono (adik almarhum Manthaus). Selain itu, turut hadir pula vokalis band kebanggaan FIB, Kukuh Dwi yang secara khusus menyanyikan tembang campursari ciptaan Manthous. Acara yang dipandu oleh MC kondang FIB, Mas Mada dan Bambang tersebut mampu menyedot perhatian warga playen. Tidak kurang dari 1000 orang memadati tempat pelaksanaan pentas yang tidak lain merupakan lahan persawahan yang baru dipanen. Kepala Desa Playen, Suharno, mengaku senang dengan adanya acara tersebut. Beliau berharap dengan adanya acara tersebut semangat warga untuk mempertahankan budaya lokal bangkit kembali. “Saya sangat senang di zaman seperti ini masih ada pemuda-pemuda yang peduli dengan budaya lokal. Saya pribadi maupun selaku Kepala Desa sangat mendukung kegiatan ‘Masyarakat Budaya’ ini,” pungkas beliau. Meskipun awalnya cuaca mendung dan sedikit gerimis, pentas berlangsung lancar dari awal hingga berakhir pukul 01.00 WIB dini hari.

            Keesokan harinya, Minggu (08/10) pagi,  panitia mengadakan bakti sosial di desa Playen. Bakti sosial berupa pemberian sembako bagi kurang lebih 50 warga desa Playen yang membutuhkan. Bakti sosial ini tidak membutuhkan waktu lama karena list penerima sembako telah disiapkan oleh karang taruna setempat. “Kami bekerjasama dengan pihak karang taruna untuk list penerima sembako dan mereka juga mengarahkan kami ke alamat warga tersebut,” jelas Rinda. Acara bakti sosial ini juga menandai selesainya rangkaian acara perkenalan atau tahap pertama dari tahapan acara masbud. “Tahap selanjutnya akan diisi dengan program FIB mengajar dan Book for Playen selama delapan bulan ke depan,” ujar Rizqi Prasetiawan, selaku SC Masbud.

            “Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar dan warga menyambut baik apa yang kita niatkan. Semoga program ini menjadi ajang bagi kita semua untuk belajar hidup bermasyarakat” ujar Bagus selepas acara. Ia menambahkan bahwa masih banyak hal yang harus diselesaikan oleh panitia selama delapan bulan ke depan. Secara terpisah Tohir mengatakan bahwa kesuksesan acara ini tidak lepas dari komitmen dan kerja keras semua pihak. “Ini adalah sebuah masterpiece! Luar biasa komitmen dari panitia yang mayoritas merupakan mahasiswa baru FIB,” ujarnya. Dia juga mengisahkan lika-liku kepanitiaan yang menurutnya banyak sekali menghadapi kendala. “Berbagai kendala membuat panitia justru semakin dewasa dan matang dalam berorganisasi,” tutupnya.

 Tohir Mustofa

Kepala Departemen Sosial Masyarakat HOKUBA

Dokumentasi

1446856818265

1446867430389

1446867495848

1446867439984

1447029482699

1446883904829

IMG_4532

IMG_4598

IMG_4692

IMG_4737

1446921923168

1447029674722

1447384452148

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *