Pelepasan Kontingen dan Semangat Darah Muda di SEKOTENG: Sumpah (Aku Masih) Pemuda!

12191

Di suatu sore menjelang senja, hari Selasa, 27 Oktober 2015, Fakultas Ilmu Budaya UGM masih terlihat seperti biasanya. Beberapa orang duduk santai di bangtem alias bangku item atau bangcok alias bangku coklat, mengobrol dengan temannya atau memusatkan perhatiannya entah kepada apa di laptop milik mereka.

            Namun, Pangter yang merupakan abreviasi dari Panggung Terbuka, yang biasanya nampak kesepian dirambati tanaman, hari itu ramai oleh sekumpulan orang. Beberapa lelaki memindahkan sound system dan alat-alat musik. Beberapa lagi naik ke atap Pangter, memasang dekorasi. Sejumlah keturunan Hawa sibuk memasang potongan-potongan huruf berwarna hijau gemerlap yang bertuliskan: S-E-K-O-T-E-N-G. Aha! Hari itu, rupa-rupanya, ada acara bulanan yang rutin dilaksanakan oleh FIB: Sekoteng, yang merupakan singkatan dari Selo, Seko, Peteng: Santai sampai Gelap.

            Hari itu beberapa orang berlalu-lalang, sebagian besar adalah panitia. Ada perkap yang tengah mengangkut barang-barang berat, dekorasi yang sibuk “menata rias” area dengan memasang kipas merah-putih dan sebuah banner yang akan menjadi photobooth, ada acara yang sibuk membahas rundown, dan konsumsi yang tengah menyiapkan makanan. Mereka semua, yang hampir seluruhnya angkatan 2015, mempersiapkan Sekoteng ini dengan penuh keantusiasan, mengingat Sekoteng di bulan Oktober ini adalah Sekoteng pertama bagi angkatan 2015 sendiri.

            Mas Bagus Panuntun bercerita acara Sekoteng ini rutin dilaksanakan karena sudah menjadi tradisi di FIB. Dulunya, Sekoteng digagas oleh Mas Kobe, Mas Naufal, sama Mas Dion dalam rangka menghidupkan FIB, yang biasanya dikenal tak pernah mati dengan acara yang nyaris ada setiap hari, namun pada zaman itu sempat “lesu event” alias tidak memiliki banyak acara. Sekoteng yang berisi hiburan apapun: band, puisi, drama, diskusi, dangdut, tari, film, dan hiburan lainnya pun menyuntikkan kembali semangat kepada para penghuni FIB. Tiap bulan pun, Sekoteng memiliki tema yang membuatnya menjadi unik dan ditunggu-tunggu.

            Nah, bulan ini, berhubung sehari setelah Sekoteng diadakan adalah Hari Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda, maka tema besar Sekoteng bulan ini adalah: Sumpah (Aku Masih) Pemuda!

 Mengusung semangat kepemudaan, dekorasi dan acara-acara yang ditampilkan di dalamnya pun bernuansa kepemudaan yang kritis dan berapi-api. Sekitar pukul 18.30, khalayak sudah mulai memadati depan Pangter. Photobooth yang bergambar tangan mengepal menunjukkan angka 1 pun sudah berdiri di belakang, sementara panitia sudah menyingkir ke tempat masing-masing. MC hari itu, Dicky—mahasiswa Antropologi nan lucu, serta Yayang, mahasiswi Bakor yang interaktif menaiki panggung dan membuka acara.

Film dari Saskine pun menjadi pengawal acara. Berjudul Kita Versus Korupsi, film yang aslinya berdurasi satu jam dan terdiri dari beberapa film pendek ini pun dipotong namun tidak mengubah esensi film yang memang mengajarkan untuk tidak melakukan korupsi: yang ternyata bisa berbentuk apapun. Tawaran kerjasama, bahkan hingga calo kartu kawin. Kita sebagai generasi penerus bangga ya mbok ya tau makna korupsi itu apa, gimana kata ‘korupsi’ ini menyusup bukan saja dalam bentuk uang, tetapi juga bisa yang lain, maka dari itu kita sebagai pemuda-pemudi harus menjaga diri dengan baik.

Kita VS Korupsi telah rampung, kemudian MC kembali ke panggung. Namun tiba-tiba, weh! Ada seorang lelaki bertubuh agak tambun, tapi—lho, kok, pake daster dan didandani ala wanita cantik (bergincu merah, berbulu mata lentik, berdempul tebal)?!

Lelaki keperempuanan ini melangkah bersama bodyguard-nya, mungkin, yang berwajah seram. Mereka lewat dari barisan penonton. Menuju ke panggung. Sedikit mengagetkan massa. Kemudian si Lelaki Keperempuanan ini nggelosor, meneriakkan bahwa ia butuh kursi dan standing mic. Ow, ow, ow, ternyata setelah mic terpasang, dari mulut Mas (atau Mbak) ini terlantun sebuah percakapan pada diri: Monolog. Tak lain dan tak bukan Lelaki Keperempuanan ini adalah Mas Luthfi, kontingen monolog yang kepiawaiannya membaca sebuah naskah dan menghayati peran sudah tidak diragukan. Mas Luthfi ini akan membawakan Monolog yang akan dilagakan pada tanggal 2 November ketika Porsenigama. Di panggung, Mas Lutfi menunjukkan kepiawaiannya bermonolog dengan menceritakan tentang seorang perempuan yang menderita dan disia-siakan.

Setelah berserius-serius dengan film bertema cukup berat dan monolog yang isinya juga berat-berat namun agak ringan berkat sedikit guyonan, pada akhirnya penonton bisa sedikit bernapas lega dan ikut menyanyi ketika Josephira manggung. Beberapa lagunya masih berkonsep kepemudaan, namun emosi penonton tampak ceria kembali ketika menikmati lagu dan bahkan segelintir lelaki berjoged-joged di depan panggung.

Kemudian Lincak pun membawa sedikit keseriusan kembali namun dengan cara yang masih bisa dinikmati. Membawakan puisi karya Sutardzi Calsoum Bahri, Wahai Pemuda, Mana Telurmu? 8 perempuan berpakaian nuansa hitam-hitam membawakan emosi yang berbeda-beda yang apik. Lagi-lagi tak lepas dari konsep pemuda. Hadeh, Para Pemuda, bertelur emas, menetas kau, dalam Sumpah Merdeka! Begitu perempuan-perempuan cantik ini menutup pembacaan puisi mereka.

Laluuu, acara selanjutnya membuat para penonton dan penghuni FIB melongokkan kepalanya antusias, apalagi jika bukan karena tiba-tiba para kontingen Porsenigama dari FIB diminta naik ke panggung, bersama Mas Bagus Sang Presiden LEM, lalu supporter nan apik yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat FIB ketika berlaga, Sastro Conthong! Sebanyak 24 kontingen akan dilepaslandaskan bertanding di Porsenigama mulai Sabtu, 30 Oktober 2015. Para kontingen setelah dipanggil satu per satu sesuai dengan cabang lombanya pun “dilepas” oleh Mas Bagus, kemudian menyanyikan Indonesia Raya bersama-sama, dan terakhir, dengan Sastro Conthong, yang dipimmpin oleh Mas Kevin dan Mas Bayu, para penghuni FIB menonton sekaligus mempelajari yel-yel akan diteriakkan untuk menyuntikan semangat para kontingen di Porsenigama nanti.

“Ini benar-benar baru pertama kalinya ada pelepasan kontingen FIB untuk Porsenigama dan Sastro Conthong, kita ingin biar teman-teman FIB yang mau berjuang lebih dihargai dan Sastro Conthong makin di dukung. Darah muda FIB harus terus dibangkitkan”, ucap Mas Zakky sebagai Kepala Departemen Minat dan Bakat LEM.

Acara sudah mencapai penghujung, namun bukan berarti selesai. Tak lama, terdengar suara alat musik harmonika dari atas panggung yang membawakan lagu-lagu The Beatles, siapa lagi jika bukan Pieter Lennon, yang walaupun sudah nampak berumur masih semangat dan ramah serta suka berkeliaran di Burjo, berdiri sambil memainkan alat musik dengan gayanya yang khas: bergoyang-goyang kemudian turun panggung, melewati penonton kemudian kembali lagi ke panggung, lalu sehabis bernyanyi pasti tersenyum. Mas Pieter Lennon hari itu berterimakasih karena FIB telah mengundangnya, kemudian tak lupa Beliau sedikit berpromosi bahwa Beliau akan tampil di Artspiration.

Maka rampung sudah Sekoteng hari itu. Mungkin setelah menonton Sekoteng: Sumpah (Aku Masih) Pemuda di malam sebelum Sumpah Pemuda itu, di pemikiran para penonton dan penghuni FIB mungkin terselip sebuah rasa kepemudaan yang baru, yang tidak perlu berkobar-kobar apalagi berkoar-koar, namun cukup sedikit memantik sumbu lilin kepemudaan masing-masing. A-a-a-a-min. (shab)

Shabia Nur Asla

Dokumentasi:

Sekoteng BRRRR 27okt_2478

Sekoteng BRRRR 27okt_4943

Sekoteng BRRRR 27okt_6128

Sekoteng BRRRR 27okt_4135

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *