SURAT CINTA #3 UNTUK PRESIDEN JOKO WIDODO “Antara HAM, Nawacita dan Metallica”

Oleh: Khusnul Bayu Aji

Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FIB UGM

Dear Pak Jokowi…

Senang rasanya “diperkenankan” menulis surat untuk anda. Meskipun kali ini bingkainya adalah memperingati satu tahun kepemimpinan anda sebagai presiden. Siapalah saya berhak menyurati anda sebagai presiden. Saya hanya mahasiswa –kalau boleh dibilang begitu- biasa dari universitas yang dulu almamaternya juga pernah anda kenakan. Ya, Universitas Gadjah Mada. Dalam surat ini saya hanya ingin menyapa anda dengan pikiran-pikiran sederhana dari rakyat jelata tentang Indonesia akhir-akhir ini.

Pak Jokowi….

Rasa terima kasih saya haturkan kepada anda karena telah mau meluangkan waktu untuk memikul tanggung jawab menjadi Presiden Indonesia. Waktu yang mungkin akan lebih menyenangkan ketika anda habiskan untuk berkumpul bersama keluarga, menyaksikan putra-putri anda tumbuh sembari menunggu cucu dari anak dan menantu pertama anda hadir ke dunia. Waktu yang mungkin akan lebih mengasyikkan juga ketika anda menghabiskannya untuk mengurusi bisnis mebel yang anda miliki. Terima kasih juga untuk berbagai prestasi yang sudah anda ukir selama menjabat sebagai orang nomor satu di negeri ini, pak. Mulai dari perampingan kabinet yang “katanya” akan memangkas pengeluaran negara dan mengefektifkan birokrasi, meruntuhkan keekslusifan istana dengan membuka ruang diskusi bagi rakyat sampai pada penolakan terhadap RUU tentang KPK yang beritanya akan melemahkan badan pemberantasan korupsi tersebut. Sekali lagi terima kasih banyak Bapak Presiden.

Pak Jokowi….

Memang benar telah banyak pencapaian yang anda buat untuk negeri ini selama satu tahun masa jabatan anda sebagai presiden. Akan tetapi, masih banyak juga kekurangan –kalau boleh saya nilai begitu- yang  harus anda pikirkan dan saya harap akan segera anda selesaikan nantinya. Tentu Pak Jokowi masih ingat dengan masalah penggusuran Kampung Pulo, masalah tentang petani Urut Sewu, di Kebumen, Jawa Tengah yang ditodong senjata oleh TNI, atau mungkin masalah Salim Kancil yang harus meregang nyawa karena dianggap melawan berlangsungnya aktivitas penambangan pasir di Lumajang bukan ? masalah-masalah yang terangkum dalam satu bingkai yang selanjutnya saya labeli sebagai permasalahan HAM. Apalagi saat kampanye sebagai calon presiden anda pun juga berjanji untuk mengadili pihak-pihak yang menyalahi HAM ketika peristiwa 65 silam. Jadi fokus pertama saya dalam surat ini adalah tentang HAM.

Pak Jokowi…

Satu tahun yang lalu ketika anda terpilih sebagai presiden ke tujuh republik ini, anda segera mencanangkan Nawacita sebagai bentuk strategi untuk mencapai tujuan-tujuan selama masa kepemimpinan anda. Sembilan butir langkah taktis yang anda gulirkan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Sembilan cita-cita luhur yang anda susun untuk membuat ibu pertiwi semakin berdikari. Bukan bermaksud menyalahkan Pak Jokowi, namun sembilan narasi besar itu belum sepenuhnya terlaksana. Berkaca pada permasalahan Kampung Pulo, Urut Sewu dan Salim Kancil, saya beranggapan bahwa negara belum benar-benar hadir untuk melindungi segenap rakyatnya. Padahal isi Nawacita yang pertama adalah menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara.

Pak Jokowi…

Sekali lagi dalam surat ini saya tidak bermaksud menyalahkan atau menyudutkan anda sebagai “tersangka utama” dalam berbagai permasalahan bangsa. Jujur ketika menuliskan ini masih tergambar jelas diingatan saya bagaimana di tahun 2011 lalu anda ikut berdesak-desakan bersama penonton lain pada acara Rock in Solo di Alun-Alun Utara Surakarta. Ketika itu saya begitu terheran-heran melihat seorang walikota berada di antara kerumunan metalhead –sebutan untuk penggemar musik metal- mengenakan jaket merah dengan kaos hitam bertuliskan “Lamb of God”. Anda begitu antusias menyaksikan penampilan grup band Death Angel dan Kataklysm sebagai bintang tamu utama kala itu, dan anda benar-benar terlihat seperti seorang headbanger.

Pak Jokowi…

Seperti yang telah banyak diberitakan oleh media, anda adalah seorang penggemar musik cadas. Awalnya saya sedikit ragu. Seorang pejabat pemerintahan senang dengan musi-musik cadas ? namun nyatanya anda memang begitu fasih menyebutkan grup band-grup band beraliran rock dan metal macam Led Zeppelin, Gun n’ Roses, Judas Priest, Motorhead, Slayer, Pantera, Napalm Death, Iron Maiden dan yang pasti grup band kesayangan anda sampai anda tidak pernah absen datang ke konser mereka, baik pada 1993 atau 2013, ya, apalagi kalau bukan Metallica. Bahkan pasca konser Metallica 2013 kemarin anda mendapat Bass yang ditandantangani langsung oleh Bassist Metallica, Robert Trujillo.

Pak Jokowi…

Sebagai penggemar Metallica, anda tentu tidak asing dengan lagu mereka yang dirilis pada 1988 berjudul “…And Justice for All”. Beberapa bagian dari lirik lagu tersebut menyebutkan “Nothing can save you. Justice is lost. Justice is gone. Pulling your strings. Justice is done”.  Lalu benarkah sudah tidak ada yang bisa menyelamatkan orang-orang terutama warga negara Indonesia  Pak Jokowi ? Benarkah bahwa keadilan sudah hilang ? dan benarkah bahwa keadilan telah selesai ? Sebagai seorang rakyat, terus terang saya berharap poin pertama dari Nawacita dapat benar-benar terlaksana. Cita-cita luhur untuk menghadirkan kembali negara dalam melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara dapat terwujud, tidak peduli siapapun itu. Semoga kedepannya masalah-masalah seperti Kampung Pulo, Urut Sewu atau munculnya Salim Kancil-Salim Kancil lain yang harus kehilangan nyawa akibat konflik kepentingan dapat teratasi.

Pak Jokowi…

Kalau boleh sedikit menagih janji, peradilan terhadap pihak-pihak yang melanggar HAM ketika tragedi 65 seharusnya juga segera dilaksanakan. Beberapa tahun terakhir Indonesia sudah dibuat geger akibat film Act of Killing dan The Look of Silence karya Joshua Oppenheimer. Film tersebut saya rasa telah mengubah sedikit demi sedikit sudut pandang masyarakat Indonesia. Sejarah tinggalan orde baru mulai luntur akibat masyarakat sudah mulai terbuka dan menayakan kebenaran peristiwa 65. Akan tetapi, satu hal yang disayangkan adalah sampai sejauh ini pengungkapan kebenaran peristiwa 65 hanya mentok pada kegiatan-kegiatan diskusi di perguruan tinggi-perguruan tinggi. Terkesan isu mengenai peristiwa 65 hanya berkahir sebagai perayaan seremonial belaka tanpa dibarengi langkah konkret yang benar-benar mewakili proses pengungkapan kebenaran tentang peristiwa tersebut dari pemerintah. Nyatanya sampai satu tahun masa kepemimpinan anda sebagai presiden belum ada berita yang menyebutkan adanya pihak atau orang yang diproses secara hukum terkait peristiwa 65.

Pak Jokowi…

Sebagai penutup, semoga anda selalu diberikan kekuatan dan kesehatan untuk menyelesaikan masa jabatan dengan gemilang, paling tidak untuk empat tahun kedepan. Semoga anda juga diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi hujatan dan cercaan. Satu lagi Pak Jokowi, semoga anda tidak  kehilangan waktu untuk mendengarkan sekaligus membaca lirik lagu-lagu yang penuh kritik sosial dari Lemmy Kilmister (Motorhead), Tom Araya (Slayer), Philip Anselmo (Pantera), Mark “Barney” Greenway (Napalm Death), Bruce Dickinson (Iron Maiden) dan pastinya James Hetfield (Metallica) selama anda mengemban amanah menjadi Presiden Republik Indonesia.

Salam hangat dari rakyatmu !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *