SURAT CINTA #2 UNTUK PRESIDEN JOKO WIDODO “Mengapa harus Bela Negara”

Oleh: Farid Mahya

Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FIB UGM

Dear, Pak Jokowi

Tak terasa Pak Jokowi telah satu tahun memimpin bangsa ini bersama Pak Jusuf Kalla (JK). Selama satu tahun itu pula, beragam kebijakan telah anda terapkan, yang populer dengan sebutan “Nawa Cita”, sebuah sembilan kebaikan pemerintah yang dijanjikan demi kebaikan rakyat pula. Saya tidak akan membicarakan semua kebaikan tersebut, hanya satu poin.

Saya memilih poin kedelapan, yaitu melakukan revolusi karakter bangsa melalui penataan kembali kurikulum pendidikan nasional. Alasan saya memilih poin itu karena berkaitan dengan wacana yang akhir-akhir ini berhembus layaknya angin kencang, yaitu kewajiban pendidikan bela negara bagi pemuda dibawah umur 50 tahun, dan bila tidak ikut, maka dipersilakan untuk “angkat kaki” dari Indonesia. Saya mengetahui kabar ini dari media sosial, dan begitu saya membaca wacana yang dicetuskan oleh Menteri Pertahanan tersebut, saya cukup terkejut dan bertanya-tanya, atas dasar apa hal ini dicetuskan.

Kewajiban pendidikan bela negara seolah-olah membuat rakyat dipaksa siap bertempur di medan perang, meskipun alasannya untuk melatih mental dan kedisiplinan. Saya pun menyoroti hal ini bukan karena saya tidak cinta Indonesia, saya tidak mau bela negara, atau sebagainya. Alasannya, karena jauh sebelum ada wacana kewajiban pendidikan bela negara ini, bangsa Indonesia sebenarnya sudah mendapat pendidikan bela negara yang sesungguhnya, yaitu melalui pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Selain itu, penanaman budaya disiplin dan cinta tanah air melalui sistem “pendidikan karakter” pun sudah terlaksana. Lantas, mengapa harus ada bela negara secara militer? Mau perang dengan siapa? Indonesia kan tidak memiliki hubungan buruk dengan negara lain, dan tetap berperan secara bebas dan aktif. Apalagi ada embel-embel pengusiran juga apabila tidak ikut bela negara, jelas itu bentuk pemaksaan,

Bela negara memang wajib, bahkan mutlak sifatnya. Namun, tidak perlu juga dilakukan secara militer. Biarlah mereka para TNI atau polisi yang melakukannya. Kasihan rakyat yang sudah susah mencari nafkah, ditambah bebannya untuk ikut kegiatan militer yang tentu saja menyita waktunya untuk bekerja dan berkumpul bersama keluarga.

Satu permintaan saya, Pak Jokowi, pikir-pikirlah lagi wacana ini. Masih banyak persoalan bangsa yang perlu ditangani dan menyangkut kesejahteraan rakyat pula. Karena bila rakyat sejahtera, maka rasa nasionalisme rakyat akan meningkat pula.

Sekian, salam cinta, salam Nawa Cita

Dari seorang mahasiswa yang tak pandai bertutur kata, tetapi peduli dengan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *