[RILIS SELARAS #7] CAMPURSARI, ASET BUDAYA YOGYAKARTA YANG MULAI TERLUPAKAN

DSCF6421

JUDUL PENELITIAN: MENGGALI POTENSI MUSIK CAMPURSARI DI DESA PLAYEN GUNA MENDUKUNG PENGEMBANGAN WISATA CAMPURSARI

-laporan penelitian BSO FIBER tahun 2014-

Waktu             : Senin, 14 September 2015 pukul 16.00

Tempat           : Plasa Gedung C Lt.2

Pembicara        : Ari Bagus Panuntun (Sastra Perancis 2012)

                              Hendy Pradeska (Sastra Indonesia 2012)

                              Adwi Nur B. (Antropologi 2012)

Notulen           : Tyassanti Kusumo D.

            SELARAS kembali lagi pada sebuah sore di plasa lantai 2 gedung C dengan sebuah topik yang sedang hangat di FIB, yaitu tentang musik campursari di Desa Playen. Topik kali ini dibahas tuntas oleh tiga pembicara kita yang berasal dari tiga disiplin ilmu yang berbeda pula, yaitu Sastra Perancis, Sastra Indonesia dan Antropologi Budaya. Materi dari Selaras kali ini juga menjadi dasar dari rangkaian acara Masyarakat Budaya yang sebentar lagi akan digelar oleh LEM FIB UGM, sehingga memang cocok dan pas sekali untuk dibahas bersama.

            “Wah, memang ada apa dengan musik Campursari yang ada di Desa Playen?”

            Musik campursari di desa Playen rupanya berbeda dari musik Campursari yang berkembang pada tahun 60-an. Musik campursari di desa Playen ini berhasil menggabungkan alat musik pentatonik dan diatonik (tradisional dan modern) sehingga menjadi suatu komposisi yang apik. Rupanya tangan dingin dari Ki Manthous lah yang telah berhasil menggagas musik ini. Manthous yang berasal dari Desa Playen ini memulai karier musiknya pada tahun 1967 dimana ia menjadi seorang pemain cello di sebuah grup campursari. Kemudian pada tahun 1993 ia mulai menciptakan Campursari sesuai versinya tadi, yang mencampur antara alat musik pentatonik ( Saron, demung, gong, siter dll) dengan alat musik diatonik (bass, keyboard dll). Tak mengecewakan memang campursari versi Manthous ini, sekitar tahun 1993 hingga 2002 berhasil meledak, booming dimana-mana, bahkan telah go international dan menelurkan lebih dari enam buah album!

            Keberhasilan dari meledaknya Campursari ini di dunia musik Indonesia juga terlihat dari berbagai penghargaan –total 17 penghargaan- yang didapat, ada yang dari RRI, Sultan Jogja, Gubernur Jawa Tengah dan masih banyak lagi. Namun rupanya masa kejayaan ini tidak berlangsung lama. Tahun 2002 Manthous jatuh sakit, gaung dari campursari Playen mulai tak terdengar dan digantikan dengan genre baru yang muncul, yaitu pop Jawa. Hingga tahun 2012 ketika Manthous pada akhirnya wafat, campursari Playen makin tidak menunjukan tanda-tanda bekas kejayaannya dahulu, sungguh disayangkan memang. Bahkan, pemaknaan masyarakat terhadap musik campursari pun kini mulai bergeser. Banyak orang yang menganggap bahwa semua lagu berbahasa Jawa adalah musik campursari, padahal musik campursari bisa disebut musik campursari dikarenakan adanya perpaduan antara tangga nada pentatonik dan tangga nada diatonik – yang dalam hal ini adalah perpaduan antara gamelan dengan alat musik modern. Selebihnya, meskipun lagu itu berbahasa Jawa namun jika tangga nada yang digunakan bukanlah perpaduan pentatonik dan diatonik, jelas bahwa musik tersebut bukan musik campursari.

            Melihat hal tersebut, teman-teman dari BSO FIBER (Bagus, Hendy dan Adwi) pun akhirnya memutuskan untuk mengulas fenomena ini. Langkah yang sama sebagai respon dari penelitian dari FIBER akhirnya dilakukan oleh LEM FIB UGM dengan cara menggagas program Masyarakat Budaya yang akan memanfaatkan potensi-potensi dari Campursari desa Playen dan berbagai aspek lainnya seperti wisata alam, SDM dan budaya untuk dipadukan menjadi sebuah desa wisata.

Merintis sebuah pembangunan desa wisata tentu bukan sebuah perkara yang mudah. Syarat untuk menjadikannya saja sudah sangat banyak dan kompleks. Namun untungnya desa Playen memiliki semuanya; potensi alam, sejarah, SDM dan aksesnya sudah memadai. Ditambah dengan adanya sosok Manthous dan Campursarinya yang dapat memperkuat branding desa wisata Playen ini. Pada mulanya teman-teman dari FIBER berpikir, mengapa Playen tidak bisa seperti kota Wina yang identik dengan musik Klasik dan Mozart –yang notabene juga lahir di Wina-, toh Manthous juga lahir di Playen dan telah menggagas sebuah musik Campursari yang unik, sehingga seharusnya jika Desa Playen ini dijadikan desa Campursari yang identik dengan penciptanya yang melegenda, Manthous, maka memang sudah hal yang perlu diragukan lagi. Untungnya, Campursari tidak sepenuhnya mati di desa ini. Pada beberapa acara pernikahan dan syukuran, Campursari tetap menjadi isian utama di panggungnya, meski mungkin euforianya tidak semeriah dahulu saat sedang masa jaya-jayanya.

            Hal yang mungkin perlu digarisbawahi disini adalah bagaimana cara untuk melestarikan peninggalan dari sisa-sisa kejayaan Campursari Manthous di masa lalu, dan betapa sebenarnya Campursari masih bisa digerakkan kembali, mengingat Manthous dan beberapa saudaranya dulu pernah tergabung dalam suatu grup musik Campursari. Sangat disayangkan tidak ada satupun saudaranya yang meneruskan musik ini, sehingga berbagai alat musik yang dulu digunakan sekarang hanya manggrok terdiam di sudut rumah. Benda-benda lain seperti cinderamata dari beberapa tokoh terkenal, delapan cover album, beratus foto, surat dan dokumen yang berada di rumah Manthous juga menjadi tinggalan yang harusnya dipelihara dengan baik sebelum pada akhirnya nanti berkarat dan lapuk. Untungnya pemerintah juga tidak menutup mata terhadap hal ini karena pada tahun 2014, sebagai bentuk dukungan terhadap apa yang telah Manthous kerjakan, dibuatlah sebuah jalan yang dinamakan Jl. Manthous.

            Rencana untuk menjadikan desa Playen sebagai sebuah desa wisata tentu sudah dipikirkan masak-masak, selain bermanfaat untuk merawat dan melestarikan potensi campursari yang ada, juga dapat menjadi sarana peningkatan taraf hidup warga yang ada di desa tersebut. Cara pelestarian mula-mula dapat dilakukan dengan membuat sebuah museum yang berisi barang-barang peninggalan Manthous, sehingga orang-orang dapat menyaksikan bukti dimana dahulu Campursari pernah berjaya hingga ke mancanegara. Selain itu tentunya hal ini dapat memantik api semangat untuk meneruskan musik Campursari Manthous yang sempat redup sekian lama. Untuk mewujudkan hal ini, tentu diperlukan sinergi antara masyarakat, pemuda, pemerintah, keluarga Manthous dan pihak-pihak lain yang sekiranya berpengaruh dalam perkara ini, sehingga semua bisa dikondisikan dan berjalan dengan baik. Percuma jika hanya ada satu pihak saja yang mengusahakan sementara di pihak lain tidak ada dukungan sama sekali. Memang, suatu kerjasama adalah kuncinya! Begitulah sore ditutup dengan pernyataan tentang pentingnya sebuah sinergi, tak lupa penetrasi yang halus dan perlahan supaya tidak terjadi culture shock di kalangan masyarakat sekitar. Penggelaran sebuah panggung pesta rakyat juga menjadi salah satu alternatif upaya propaganda dalam mewujudkan wacana ini, karena panggung rakyat merupakan salah satu momen hiburan yang dekat dengan masyarakat, sehingga dapat dengan mudah dinikmati dan memudahkan pendekatan antara dua belah pihak.

Akhir kata, salam dan sampai jumpa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *