[RILIS] HASIL DIALOG BERSAMA DEKANAT JILID 2

23903

Selasa pagi, 15 September 2015, LEM FIB bersama Forum Komunikasi HMJ BSO FIB mengadakan Dialog Bersama Dekanat untuk yang kedua kalinya pada 2015 ini. Pertemuan yang dimulai sejak jam 8 pagi ini memang tidak seramai Dialog Bersama Dekanat jilid pertama pada Maret lalu. Jika pada DBD jilid pertama, kami mengundang seluruh masyarakat FIB untuk hadir dalam pertemuan ini, maka pada DBD jilid kedua kami hanya mengundang perwakilan HMJ BSO. Kebanyakan perwakilan HMJ BSO pun tidak dapat hadir dalam pertemuan ini karena sedang mengikuti perkuliahan.

Dialog yang dilakukan di area bangku hitam (bangtem) ini selain dihadiri oleh sembilan perwakilan HMJ BSO, juga turut dihadiri oleh Mas Sus selaku Kepala Unit Kemahasiswaan FIB, Pak Heru Marwata selaku Wakil Dekan bidang Aset dan Keuangan, serta Pak Pujo selaku Dekan FIB.

Apa topik yang kami bahas dalam dialog ini? Pada dialog ini, kami kembali membicarakan tentang pembangunan di FIB yang sudah akan dimulai pada 17 September 2015. Sebenarnya, garis besar rencana pembangunan di FIB sudah dijelaskan oleh Dekanat pada DBD jilid pertama, bagi yang belum membaca, silakan membuka link berikut: http://lem.fib.ugm.ac.id/?p=299

Jika pada DBD jilid pertama Dekanat lebih banyak menyampaikan bagaimana arah pembangunan di FIB secara garis besar, maka pada DBD jilid kedua ini Dekanat menyampaikan dengan sangat mendetail model pembangunan gedung L yang akan ada di FIB. Gedung L yang akan dibangun tujuh lantai ditambah satu basement ini akan digunakan untuk memfasilitasi sembilan dari sebelas jurusan yang ada di FIB. Rata-rata jurusan akan mendapat ruang seluas 700 meter persegi dengan fasilitas yang memadai, terutama untuk ruang kerja dosen. “Dosen harus mendapatkan ruangan yang layak supaya mereka dapat membaca dengan nyaman, sehingga mereka lebih produktif dalam menghasilkan karya ilmiah,” terang Pak Pujo. Selain itu, Pusat Pelatihan Bahasa dan INCULS juga akan bertempat di gedung L sebagai pusat pembelajaran bahasa di Universitas Gadjah Mada, sedangkan basement yang dibangun rencananya akan dibuat menjadi kantin mahasiswa.

Gedung L yang akan dibangun ini diharapkan dapat menjawab kegelisahan ruang dan hubungan mahasiswa dengan dosen, terutama Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang akan diletakkan dekat dengan ruang dosen supaya dosen dapat mengawal, membimbing, dan tidak abai pada mahasiswanya. Keadaan yang kita lihat saat ini di FIB adalah letak Sekretariat Bersama HMJ yang jauh dari tempat dosen, sehingga seperti kurang diperhatikan dan beberapa dosen jurusan terkesan luweh. Ke depannya, diharapkan hubungan antarmanusia di FIB pada umumnya dan dosen dengan mahasiswa pada khususnya dapat lebih intim dan saling memberi teladan satu sama lain.

Selain menjelaskan tentang Gedung L, Pak Pujo juga menjelaskan tentang alih fungsi beberapa gedung yang saat ini telah ada di FIB. Gedung A kelak akan menjadi pusat belajar untuk mahasiswa Doktor. Gedung B akan menjadi pusat kegiatan Badan Semi Otonom, Mushola serta perpustakaan. Dekanat juga sedang fokus mengubah perpustakaan FIB menjadi perpustakaan digital sehingga kelak mahasiswa dapat mengakses perpustakaan selama 7 x 24 jam. Pendigitalisasian tentu juga memberi dampak pada dana. Dana yang digunakan untuk merawat buku dapat ditekan dan dialihkan menjadi dana riset mahasiswa. Hal ini dipandang Pak Pujo sebagai sesuatu yang positif, mengingat di tahun-tahun mendatang mahasiswa harus lebih aktif berkarya. Gedung Margono akan memfasilitasi dua jurusan, yaitu Arkeologi dan Sastra Nusantara, sedangkan gedung G akan dijadikan laboratorium bahasa dan juga studio musik serta studio tari baru.

Pada kesempatan yang sekaligus menjadi sosialisasi dekanat untuk pembangunan di FIB ini, kami dari pihak mahasiswa juga menyampaikan beberapa aspirasi, kritik, dan saran. Diantaranya dari LEM yang menyarankan adanya ruang khusus Balai Medis Ilmu Budaya dan juga perbaikan untuk pelayanan Tata Usaha FIB dalam hal peminjaman ruang, fasilitas kampus, dan pelayanan permohonan penurunan UKT. Sementara itu, Hasty dan Patwa Al Huda, perwakilan dari Sastra Budaya, membahas tentang studio Sastra Budaya yang harus pindah akibat dari pembangunan ini. Setelah diskusi ini, Dekanat sepakat untuk menempatkan studio musik Sastra Budaya di ruang B105.

Selain itu, ada beberapa informasi yang kami dapatkan dari DBD jilid dua ini, diantaranya:

– Auditorium FIB akan segera direnovasi sehingga kegiatan mahasiswa yang akan dilaksanakan di auditorium FIB harus berpindah tempat.

– Selama proses pembangunan, mushola FIB akan dipindahkan ke gedung yang saat ini menjadi Kantin Sastra.

Sekian rilis kami tentang pertemuan 90 menit yang sudah kami lakukan. Dialog Bersama Dekanat merupakan salah satu program kerja LEM yang memiliki tujuan untuk memupuk rasa keterbukaan dan kerja sama antara pihak mahasiswa dengan pihak dekanat. Semoga hasil dari pertemuan ini memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat FIB.

Salam Hokuba !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *