[RILIS] Memaknai ‘Ngondek’ di Media: Antara Seksualitas dan Komoditas

Berita Acara Diskusi Departemen Kajian Keilmuan LEM FIB

“Memaknai ‘Ngondek’ di Media: Antara Seksualitas dan Komoditas”

Kamis, 23 April 2015 Pukul 16.00 – selesai di Lt.2 Gedung Poerbatjaraka FIB UGM

 

Pemateri          : Dr. Suzie Handajani, M.A.

Moderator       : Venda Pratama

Notulen           : Tyassanti Kusumo Dewanti

Halo kawan semua, Kamis, 23 April 2015 kemarin, Selaras (Selasar Aksara Senin Sore) kembali hadir di selasar lt.2 Gedung Poerbatjaraka FIB UGM. Ada yang berbeda dari Selaras kali ini. Pertama, Selaras yang biasanya diadakan pada hari Senin, kali ini diselenggarakan pada hari Kamis. Kedua, untuk mengadakan Selaras, kali ini LEM FIB UGM saling bahu membahu bersama Kemant (Keluarga Mahasiswa Antropologi) FIB UGM untuk bersama menggelar diskusi dengan topik “Memaknai ‘Ngondek’ di Media: Antara Seksualitas atau Komoditas”.Pemateri dalam diskusi ini sendiri adalah Dr. Suzie Handajani, M.A. Beliau adalah dosen Antropologi Budaya FIB UGM yang juga merupakan staf peneliti di Laura.

Eh, tunggu, apa sih ngondek?

Dari hasil bincang-bincang dan ngobrol kemarin Kamis, ‘ngondek’ bisa dimaknai sebagai sifat kemayu dari laki-laki; tetapi kemayu yang lebih mengarah kepada melambai, cara bicara seperti perempuan penggoda,berdandan menor dan lain sebagainya. Rupanya ‘ngondek’ ini sudah ada sejak lama di Indonesia. Masih ingatkah teman-teman dengan sosok Tessy, Tata Dado, Ade Juwita dan teman sejawatnya yang kini semakin banyak bertebaran di layar kaca, atau katakanlah mendiang Olga Syahputra, Aming maupun Ivan Gunawan? Jika kita masukkan mereka dalam kelompok “ngondek”, tentu kita sudah memiliki indikator sendiri untuk memasukkan mereka dalam golongan tersebut, Misalnya seperti dengan penggunaan make up, baju V-Neck, mulut nyablak, gesture tubuh yang seperti wanita dan berbagai hal lain yang tentu sudah terbentuk dalam pola pikir kita.

Sebelumnya, Mbak Suzie menjelaskan ide awal ketertarikannya ikhwal ‘ngondek’ ini; awal mulanya beliau iseng menonton youtube, kemudian beliau menemukan beberapa video laki-laki yang sedang berdandan. Namun ternyata diluar sangkaan, mereka masih mengaku diri sebagai laki-laki. “I’m a boy who wears make up” ujar salah seorang pria dalam video tersebut.Mulailah muncul banyak pemikiran dalam kepala Mbak Suzie. Setelah itu beliau pun mulai mengamati beberapa perilaku ‘ngondek’ di sekitarnya. Salah satu cerita menarik yang dibagikan olehnya adalah ketika beliau sedang berjalan-jalan di mall dan melihat ada MC banci yang mulutnya nyablak seperti kelakuan para ‘ngondek’ pada umumnya. Kemudian saat acara yang dipandu oleh MC tersebut telah usai, Mbak Suzie bertemu dengannya di toilet perempuan. Terlihat dengan jelas oleh beliau bahwa MC tersebut sedang membersihkan sisa make up di wajahnya.

Akan tetapi pertanyaannya adalah mengapa si MC ini justru masuk ke kamar mandi perempuan? Kemudian Mbak Suzie pun berasumsi apabila MC masuk ke kamar mandi laki-laki, maka akan menjadi guyon bagi kaumnya, dan ia lebih memilih untuk masuk ke kamar mandi perempuan yang dirasa “lebih aman” dan dapat menerima penampilan fisiknya saat sedang menjelma menjadi wanita.

Ada satu lagi, Mbak Suzie juga sempat melontarkan statement yang menyentil. “Kalau kamu lihat ngondek di TV, pasti lucu, tapi kalau ketemu langsung? Hm.. boro-boro, pasti merasa jijik dan juga risi, kan. Apalagi biasanya untuk para cowok, mereka juga takut dicolek-colek”. Wah, benar juga, ya… mulai terasa disini bahwa ada jarak antara ngondek yang di dunia media dengan yang biasa kita temui di dunia nyata. Bahwa jarak tersebut justru membuat kita merasa semakin jauh dengan kaum mereka di kehidupan nyata dan kita tidak bisa mengetahui secara jelas bagaimana kehidupan mereka sesungguhnya.

Selain pengaruh dari media yang membuat kita merasa aneh dengan pelaku ‘ngondek’ di dunia nyata, ada fenomena lain yang ternyata selama ini sudah masuk pada pola pikir kita, yaitu bahwa sosok ngondek/banci/waria/laura pasti selalu berada di level lebih bawah daripada seorang pria metroseksual dan juga pria gay. Penggambaran ini bisa dilihat misalnya di beberapa sinetron ataupun drama impor, bahwa pria metroseksual dan pria gay pasti lebih sukses. Kehidpan mereka selalu digambarkan lebih mapan daripada kehidupan banci. Para banci yang selalu diperpesepsikan menor dan genit, paling “banter” hanya bisa menjadi pegawai salon atau berwirausaha membuka rumah makan, tidak lebih. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah karena penampilan fisik mereka yang lebih susah diterima jika dibandingan dengan pria metroseksual atau gay ?

Lalu, bagaimana soal berdandan sendiri ?

Dandan memang menjadi salah satu hal yang dapat kita lihat secara jelas pada sosok laki-laki ‘ngondek’, dan rupanya hal ini juga didukung oleh perusahaan-perusahaan pembuat make-up. Sudah ada beberapa perusahaan yang memang sengaja membuat produk untuk pria, mulai dari sabun muka, handbody, BB cream dll. Biasanya, produk-produk ini diberi label “for men”. Hal ini dilihat sebagai peluang bagi perusahaan kosmetik, sebab saat ini penikmat produk mereka bukan lagi terbatas pada kaum hawa, tetapi juga sudah merambah pada kaum adam. Dengan kata lain, fenomena ini justru dijadikan kesempatan bagi korporasi untuk menggaet pangsa pasar yang “empuk”.

Pada awal kemunculannya, pihak perusahaan sedikit kesusahan untuk mencari model yang dapat mengiklankan produknya, hingga akhirnya terpilihlah beberapa ikon yang dapat mewakili produk tersebut tanpa harus mengurangi sisi kemaskulinannya. Ikon-ikon tersebut antara lain David Beckham, Christiano Ronaldo dan Justin Bieber. Mereka juga menggunakan produk-produk perawat tubuh dan beberapa krim dari make up layaknya yang diperagakan oleh perempuan, akan tetapi mereka tetap dikenal sebagai pria macho yang wangi dan segar.

Mbak Suzie kemudian bercerita tentang pengalamannya ketika ia mampir ke toko kosmetik dan menjumpai ada pegawai laki-laki yang berdandan, lengkap dengan foundation, bedak, alis yang dibentuk sempurna dan sedikit sentuhan mascara di bulu mata. Beliau bertanya pada lelaki tersebut, “Mas, produk yang mas pakai itu yang mana, ya? Saya mau juga, dong”. Namun, lelaki tersebut justru sedikit tersipu dan malu, lalu seketika beranjak dari samping Mbak Suzie.. Jadi makin kabur nih bagaimana sebenarnya para pria ‘ngondek’ harus dimaknai dalam kehidupan nyata. Tapi tenang bung dan nona, beberapa hal yang telah dibahas saat Selaras kemarin pada akhirnya membuat kita sadar bahwa ngondek sendiri tidak bisa didefinisikan dan dijlentrehkansecara jelas, begitu pula dengan para Queer (sebut saja mereka adalah yang berada di antara zona maskulin-feminim); karena pada praktiknyadi kehidupan nyata pun, semua orang memiliki karakter yang berbeda. Namun yang jelas, kita sering memaknai mereka sebagai aspirasi dari hasrat untuk mengungkapkan kebebasan; bisa yang berisi curahan hati, hal-hal konyol dan masih banyak lagi. Sebab secara tidak sadar, anggapan kita yang sudah terbentuk kepada pribadi mereka adalah sikap acuh tak acuh. Selain itu cap bahwa ‘ngondek’ merupakankata lain dari “The New Bitch” juga semakin mengukuhkan mereka sebagai suatu kelompok yang berbeda dari manusia pada umumnya.

Kesimpulan

Kehadiran ‘ngondek’ dalam kehidupan sekitar kita, baik di media dan realita tetaplah menjadi sesuatu yang fenomenal. Jika muncul di media, kita pasti akan tertawa dan mengolok-olok mereka karena tingkah konyolnya. Namun di kehidupan nyata, kebanyakan dari kita akan memandangsebelah mata pada mereka, bahkan merasa risi jika mereka ada di dekat kita, atau kalau bisa sih ya jaga jarak saja malah. Di sinilah betapa kehebatan media mampu membentuk persepsi kita, yang dalam konteks ini adalah pandangan kita terhadap fenomena ‘ngondek’. Semoga kedepannya nanti kita makin peka dengan mereka dan tidak berusaha semakin membuat kelompok ini menjadi minoritas yang identik dengan aksi dikejar satpol PP, ataupun sekedar akrab menjadi pembahasan atas label “merah”yang diberikan oleh FPI. Mereka juga manusia yang memiliki jiwa manusia di dalamnya; mengapa manusia dan manusia saling berkejaran dan merasa benar atau merasa jijik atas sesamanya? Berdamai dan merangkul satu sama lain adalah jalan untuk menghilangkan jarak tersebut.

Sampai jumpa di Selaras selanjutnya. Salam budaya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *