#BumiSrawung untuk Yogyakarta Nyaman

Yogya – Jumat (7/3) akan dipentaskan ketoprak Bumi Srawung tandem ketoprak Sastra Budaya FIB UGM garapan sutradara Satriadi Laksono dengan lakon Too Fast To Serius “Percayalah yang dikatakan Cindi!” di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM atau yang lebih dikenal sebagai Gedung Purna Budaya, menampilkan Alit-Alit Jabang Bayi, Anang Batas, Yu Beruk, Kinanti Sekar, Kukuh Prasetyo, dan Danang Marto Paidi yang siap mengocok perut warga Jogjakarta.

Pagelaran ini tak hanya menyuguhkan pentas, melainkan mengusung wacana yang sederhana namun mengena, bumi srawung, dimaknai sebagai kerinduan akan keramahan kota Jogja yang mulai bias dewasa ini. Hadirnya ponsel pintar melahirkan generasi-generasi ‘menunduk’ yang hanya melihat lurus pada layar ponsel mereka, seolah lupa bahwa ada kakek-kakek di dalam bis kota yang siap menceritakan pengalaman perangnya atau mbak-mbak cantik yang tak ragu tersenyum menerima sapaan hangat, bukan hanya sekadar emotikon di beranda Facebook atau Line. Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Srawung diangkat untuk mengingatkan kembali budaya ramah dan identitas yang selama ini mengistimewakan Yogyakarta.

Mendapat sumbang saran dari Garengpung Indonesia, Elyandra Widharta merampungkan naskah ketoprak yang akan menohok pikiran pemain dan penontonnya. Pentas mengambil setting di sebuah desa bernama Kelurahan Banteran yang dipimpin oleh seorang Lurah perempuan, Cindi namanya, cerita ini menggambarkan kejadian-kejadian menjelang pemilu Lurah baru Banteran.  Tokoh Pak Rebo (ayah Cindi) yang diperankan oleh Marwoto, menginginkan Cindi sebagai Lurah incumben menjabat lagi sehingga ia mendapatkan kekuasaan strategis di Kelurahan Banteran.

Usut punya usut, calon-calon lurah lain pun gencar melakukan berbagai usaha demi kemenangan mereka. Tak pantas kiranya jika usaha-usaha tersebut dikatakan sebagai cara kotor ataupun tidak kotor karena pada kehidupan politik Indonesia hal tersebut juga dilakukan oleh mereka yang sedang memperebutkan kekuasaan. Entah berhubungan dengan pemilu 9 April nanti atau tidak, pentas ini nampaknya layak untuk disaksikan.

“Harapannya, Bumi Srawung ini tidak hanya menjadi sekedar pentas ketoprak tetapi semangat dan hakekat ‘srawung’ terwujud dan tetap menjadi identitas Jogja baik untuk warga asli maupun pendatang yang ikut merasa memiliki kota ini.” papar Seto.  (Media/Arin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *