Katanya Katanya

Pasca meletusan Gunung Kelud, Jumat pagi (14/2) beredar banyak informasi mengenai waspada akan adanya erupsi lebih dahsyat yang diikuti awan panas, gempa susulan, dan lahar dingin. Foto-foto yang ‘katanya’ diambil saat terjadi ledakan juga ramai memenuhi jejaring sosial. Kepanikan pun menyebar. Apalagi dengan tambahan bahwa gunung api lain di Jawa Timur seperti Bromo yang statusnya naik menjadi awas, katanya. Katanya? Ya, katanya. Karena pada akhirnya informasi yang beredar tersebut tidak lebih hanya isu belaka. Hoax.

Masih ingat dengan informasi penggunaan masker secara terbalik? Abu vulkanik Gunung Kelud yang menghujani beberapa daerah termasuk Yogyakarta menghambat  aktivitas warga. Sekolah diliburkan, pasar sepi, bahkan beberapa bandara ditutup karena hujan abu tersebut. Masyarakat yang akan beraktivitas di luar ruangan diharap memakai masker. Pemerintah bahkan membagikan masker secara cuma-cuma. Bersamaan dengan itu beredar gambar dua sisi masker tentang penggunaan masker yang ‘benar’ di jejaring sosial dengan keterangan berbahasa Inggris yang mengesankan informasi ini berasal dari sumber terpercaya. Sekedar mengingatkan, menurut gambar ini dua sisi masker memiliki fungsi berbeda. Apabila kita sakit (semisal flu) maka sisi putih menempel di muka berfungsi untuk mencegah mikro-organisme keluar dari mulut dan hidung kita yang bisa menyebar ke tubuh orang lain. Sedang untuk mencegah partikel-partikel (seperti debu vulkanik) atau mikro-organisme masuk ke tubuh kita, maka pemakaian masker dibalik. Sisi putih berada di luar dan sisi yang berwarna menempel di muka. Banyak dari kita yang serta merta mempraktekan penggunaan masker sesuai informasi tersebut. Ada pula yang langsung menyebarkan informasi tersebut melalui twitter, Blackberry Messenger, atau facebook. Ada juga yang menegur ketika seseorang tidak menggunakan masker sesuai informasi tersebut. Hingga akhirnya muncul artikel yang ditulis Purnawan Kristanto di kompasiana yang menyatakan bahwa penggunaan masker secara terbalik adalah hoax.

Seperti gambar yang berisi informasi tentang penggunaan masker, tulisan ini juga dengan cepat beredar di dunia maya. Dalam artikelnya, Purnawan mengatakan bahwa keberadaan dua sisi masker yang berbeda warna tidak lain karena produsen masker memang memproduksi masker dengan dua warna berbeda, bukan karena dibalik. Selain itu penulis juga menjelaskan penggunaan masker yang benar.  Berita ini jelas kembali merubah cara penggunaan  masker di masyarakat, terutama kawula muda yang memang selalu terhubung dengan internet.

Pertanyaannya, siapa yang memulai berita-berita hoax tersebut? Dari akan adanya gempa susulan hingga penggunaan masker. Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi, penyebaran informasi dapat dilakukan secara cepat. Berbagai macam jejaring sosial dan aplikasi messenger menjadi sarana utama penyebaran informasi ini. WhatsApp, BBM, twitter, maupun facebook adalah contoh dari sarana penyebaran berita sekarang ini. Praktis, memang. Cukup satu ‘klik’ dan voila, jadilah sebuah berita. Hanya saja dengan segala kemudahan yang ada, tidak semua informasi yang tersedia bisa kita percaya begitu saja. Ingat, siapapun bisa mengunggah segala bentuk informasi ke dunia maya dan tidak sedikit yang ternyata hoax saja. Berita-berita palsu yang beredar pasca letusan Gunung Kelud tersebut merupakan salah satu contohnya. Apalagi keberadaan berita tersebut pada akhirnya hanya menambah kepanikan masyarakat saja. Sebagai pembaca yang cerdas, alangkah baiknya bila kita memastikan kebenaran informasi yang ada sebelum disebarluaskan.  Sayangnya, kebanyakan kita terlalu malas untuk sekedar crosscheck kebenaran berita yang ada. Apa yang kita baca, itulah yang kita percaya. Apalagi dengan keterangan gambar yang seakan meyakinkan bahwa berita tersebut benar adanya.

Terlepas dari maksud si pembuat berita palsu ini, kemajuan teknologi komunikasi memang harusnya diimbangi dengan kemampuan kita dalam memilih informasi apa yang sebenarnya bermanfaat dan benar. Menjadi jeli dalam memilih informasi itu perlu. Tidak langsung menelan mentah-mentah informasi yang disampaikan harus jadi perhatian. Pastikan ada sumber terpercaya yang dicantumkan. Karena tidak semua yang ada di dunia maya itu nyata, pada akhirnya kita yang harus bijak agar tidak terjebak bahkan dalam situasi darurat. (Media/Najmah)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *