Dampak Letusan Gunung Kelud di Yogyakarta

Indonesia dan gunung berapi merupakan sahabat dekat yang tidak dapat dipisahkan. Banyaknya gunung berapi di Indonesia yang sebagian besar masih aktif merupakan fenomena mengerikan sekaligus menakjubkan. Sekitar 129 gunung berapi yang mengelilingi Indonesia menyebabkan negeri ini termasuk bagian ring of fire di Samudera Pasifik. Hal tersebut memaksa masyarakat Indonesia untuk selalu waspada akan letusan gunung berapi yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia saat ini yaitu Gunung Kelud. Gunung ini terletak di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang, kira-kira 27km dari pusat kota Kediri. Gunung dengan tinggi 1.731m ini tercatat pernah meletus lebih dari 30 kali sejak 1000M lalu, dan letusan terbesarnya mencapai 5 Volcanic Explosivity Index (VEI). Gunung ini termasuk istimewa dengan adanya danau kawah. Dalam kondisi letusan, danau kawah Gunung Kelud dapat mengalirkan lahar letusan dalam jumlah besar.

Akan tetapi, letusan freatik Gunung Kelud tahun 2007 memunculkan kubah lava ke permukaan danau sehingga danau kawah nyaris sirna. Selain itu, kubah lava inilah yang diperkirakan sebagai penyebab terhambatnya letusan besar pada tahun itu. Hingga akhirnya, Kamis (14/2), Gunung Kelud meletus kembali pada pukul 22.50  WIB.

Akibat letusan ini, erupsi Gunung Kelud meliputi wilayah sekitar Gunung Kelud, bahkan hingga Yogyakarta. Hujan abu melanda sejumlah daerah termasuk Yogyakarta mulai Jumat pagi (14/02), menyebabkan terganggunya aktifitas masyarakat. Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman dengan sigap menanggapi dampak erupsi Kelud dengan meliburkan seluruh sekolah dan instansi pemerintahan. Selain itu, beberapa kampus di Yogyakarta juga melakukan tindakan serupa.

Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui laman resminya serta konfirmasi langsung dari rektor mengumumkan untuk meliburkan perkuliahan sementara, hingga batas waktu yang belum ditentukan. Beberapa Fakultas mengambil keputusan untuk memundurkan jadwal masuk kuliah untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari erupsi Gunung Kelud.

Selain itu, erupsi Gunung Kelud juga menyebabkan jalanan, tumbuhan, serta bangunan penuh abu termasuk UGM. Akibatnya, terjadi kelumpuhan alur lalu lintas dalam UGM terutama saat proses pembersihan abu di jalanan sedang dilangsungkan. Hal ini terjadi sampai sekitar 3 hari setelah hujan abu.

Kekhawatiran masyarakat terhadap letusan Gunung Kelud maupun gunung berapi lainnya memang beralasan, mengingat ada puluhan gunung berapi yang terus menunjukkan meningkatnya aktivitas. Oleh karena itu, selain meningkatkan kewaspadaan, sistem penanggulangan bencana yang tepat harus diterapkan. Jika letusan gunung berapi memang tidak bisa dicegah, menyelamatkan banyak nyawa dengan peringatan dini tentu masih dapat dilakukan. (Media/Ucig)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *