68 Tahun Fakultas Ilmu Budaya

Tahun ini, Fakultas Ilmu Budaya memasuki usia 68 tahun. Fakultas yang berdiri pada 3 Maret 1946 ini dulunya bernama Faculteit Sastra, Filsafat, dan Kaboedajaan. Setelah 6 kali berganti nama, akhirnya pada tanggal 21 Juni 2001 berganti menjadi Fakultas Ilmu Budaya sampai sekarang.

Untuk memperingati dies natalis FIB, akan digelar seminar hasil penelitian pada Kamis (6/3) di Gedung Purbatjaraka lantai 3. Seminar bertujuan untuk menyebar luaskan hasil penelitian yang telah berhasil dilakukan oleh 11 jurusan di FIB kepada civitas akademika dan masyarakat pada umumnya. Acara akan berlangsung mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB untuk 150 orang yang telah mendaftar di sekretariat panitia dies natalis FIB, gratis bagi dosen, karyawan, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Kemudian pada hari Sabtu (8/3) akan digelar pentas ketoprak yang seperti tahun sebelumnya diselenggarakan di Gedung PKKH UGM (red. Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri) dipimpin oleh Heru Marwata. Disutradarai Cahyaningrum Dewojati dan Sudibyo, pentas mengambil Lakon Jendral Besar atawa Marsekal Guntur, menceritakan kehidupan masyarakat Jawa dalam sudut pandang yang lain. Kehancuran kerajaan-kerajaan Jawa dipandang oleh tokoh utama, Marsekalek sebagai akibat dari raja-rajanya yang hanya membanggakan warisan leluhur tanpa mengembangkan potensinya untuk masa depan. Orang Jawa dicitrakan sebagai bangsa yang bodoh dan seolah melegalkan dominasi orang kulit putih.

“Tokoh Marsekalek atawa Daendels digambarkan tokoh multidimensional dalam cerita ini, dipuja sekaligus dibenci, didamba sekaligus dicaci. Ia sebenarnya adalah sebuah warning dan retropseksi pada calon pemimpin bangsa di masa depan.” papar Cahyaningrum.

Menurutnya, cerita ini yang diadaptasi dari Hikayat Mareskalek karya Abdullah bin Muhammad al-misri (1811) ini menjadi sangat menarik karena pengarang tidak hanya menyampaikan kritik tajam pada arogansi penguasa kolonial tetapi juga pada masyarakat inlander yang memuja feodalisme, enggan kerja keras, dan lemah. Entah apa yang mendorong penulis naskah untuk mengambil cerita yang ‘merendahkan’ orang Jawa ini –yang notabene dipentaskan di Jawa pula. Melihat kekurangan masyarakat Jawa yang mungkin tidak disadari, pentas ini nampaknya akan cukup menohok pikiran penonton, dan pemain bahkan.

“Kita rindu pemimpin masa depan yang benar-benar visioner dan bekerja keras untuk negaranya. Kita rindu rakyat cerdas, kuat, dan mandiri hingga mampu memberi kontribusi berarti untuk negeri.” tambah Cahyaningrum.

Pentas akan sangat menakjubkan dengan iringan musik gamelan oleh Tim Karawitan FIB UGM asuhan Papang Bayu Purnama dan tata busana oleh Bagus Febriyanto, Eko, dan Tim Jurusan Tata Busana UNY. Sebelum pentas, latihan telah dilakukan sejak awal bulan Februari dengan pemain yang terdiri atas dosen, karyawan, dan mahasiswa dari berbagai jurusan di FIB. Dekan Pujo Semedi turut berpartisipasi memerankan tokoh Sunan Kalijaga. Beberapa dosen yang bermain antara lain Wulan Astuti, Stedi Wardoyo, Pujiharto, dan masih banyak lagi. Sedangkan dari mahasiswa antara lain, Christofer Joseph, Anindya Kumara, Vincentius Bagas, Ahmad Muqoffa, dan lain sebagainya.

Tak bisa dibayangkan kekocakan yang akan terjadi mengingat pemain merupakan gabungan antara dosen dan mahasiswa. Pentas akan dimulai pukul 19.00 WIB dan dibuka gratis untuk umum. (Media/ Arin Agustin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *