Kita Diingatkan oleh Uang

Uang adalah alat tukar yang digunakan dalam proses jual beli barang atau jasa. Uang yang diproduksi Bank Indonesia secara umum ada dua, yaitu kertas dan logam. Masing-masing memiliki nilai dan wajah yang berbeda. Kebanyakan menampilkan gambar wajah pahlawan negara dan tempat-tempat indah dari pelosok Nusantara.

Objek yang menjadi sorotan dan incaran semua orang ini memiliki keunikan dan fungsi yang lebih besar dari nilai uang itu sendiri. Namun, banyak orang tidak sadar akan fungsi lebih uang dilihat dari gambar-gambar yang merupainya.

Dalam uang pecahan Rp1.000,- (seribu rupiah) terdapat gambar Kaptain Pattimura dengan nama asli Thomas Matulessy yang sedang memegang golok. Pattimura, pahlawan dari Maluku yang memiliki julukan Ayam Jantan dari Timur karena keberaniannya melawan penjajah.

Uang Rp2.000,- (dua ribu rupiah) memiliki gambar pemimpin perang Banjar bernama kecil Gusti Inu Kartapati atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Antasari, pewaris kerajaan Banjar. Tuanku Imam Bonjol yang bernama asli Muhammad Shahab adalah ulama, ia adalah pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda di daerah Sumatra Barat. Wajahnya menghiasi uang Indonesia pecahan Rp5.000,- (ima ribu rupiah). Dalam uang pecahan Rp10.000,- (sepuluh ribu rupiah) terdapat gambar Sultan Mahmud Badaruddin II. Merupakan pemimpin kesultanan Palembang-Darusalam dan terkenal amat kaya. Namun kekayaannya tak membutakan hati Sultan yang lebih memilih turun dan ikut bertempur melawan penjajahan Inggris dan Belanda.

Uang pecahan Rp20.000,- (dua puluh ribu rupiah) menampilkan sosok Oto Iskandar Dinata, merupakan wakil ketua Budi Utomo cabang Bandung; pemimpin surat kabar Tjahaja (sahaja), badan anggota BPUPKI dan PPKI; dan menjadi Menteri Negara yang pertama di tahun 1945. Julukannya adalah Si Jalak Harupat, sebutan ayam jantan dalam bahasa Sunda yang menggambarkan keberanian (nyaring berkokok dan menang saat diadu).

Gambar I Gusti Ngurah Rai, putra Bali yang berperang melawan Belanda sampai habis-habisan di perang terakhirnya yaitu Puputan Margarana bersama pasukannya Ciung Wenara terdapat dalam uang pecahan Rp50.000,-. Uang kertas dengan nominal terbesar yaitu Rp.100.000 (seratus ribu rupiah) memiliki gambar dua tokoh besar yaitu Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Seperti yang kita tahu, perjuangan beliau dari masa Pergerakan Nasional sampai Masa kemerdekaan, perjuangan mereka untuk kemerdekaan Indonesia menjadi puncak dari perjuangan bangsa Indonesia masa penjajahan.

Sebenarnya, tidak ada alasan khusus Bank Indonesia dalam menentukan pilihan pahlawan-pahlawan yang dijadikan ikon uang kertas Indonesia. Pahlawan di uang kertas tersebut dipilih untuk sebagai perwakilan dari beberapa pulau di Indonesia.

Di uang Rp1.000 kita menemukan Kaptain Pattimura yang berasal dari Maluku, perwakilan pahlawan yang berasal dari Indonesia bagian Timur. Gambar Pangeran Antasari pada uang Rp2.000 sebagai salah satu pahlawan dari Kalimantan, kemudian pada uang Rp5.000 ada Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan yang berasal dari Sumatera Barat dan Sultan Mahmud Baddarudin II yang sama-sama berasal dari tanah Sumatera bagian Selatan pada uang Rp10.000. Lalu, Oto Iskandar yang berasal dari tanah Sunda pada uang Rp20.000, di uang Rp50.000 ada I Gusti Ngurah Rai yang berasal dari Bali kemudian nominal terbesar Rp100.000 terdapat dua pahlawan, Ir Soekarno dan Moh Hatta yang keduanya berasal dari Jawa, menjadi perwakilan sebagai tokoh pergerakan nasional pada masa kemerdekaan.

Menjadikan gambar pahlawan sebagai ikon di mata uang adalah wujud pemerintah untuk menyatukan kebegaraman yang ada di Indonesia, mengapresiasi, menghargai serta mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Kemerdekaan yang didapat dengan cucuran darah dan pemikiran orang-orang hebat. Kemerdekaan yang direbut dengan perjuangan para pemuda dam gerilyawan Indonesia. Dengan wajah uang kertas yang seperti itu, uang, benda yang selalu kita bawa ke manapun dan kapanpun, akan senantiasa mengingatkan kita untuk mempertahankan kemerdekaan, mengisinya dengan prestasi dan semangat meraih cita-cita hebat di masa depan. Jangan membiarkan pengorbanan para pahlawan kita sia-sia karena mereka mengusahakannya dengan seluruh jiwa raga. (Media/Gita)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *