[RELEASE] Berita Acara #SELARAS 1

Berita Acara Diskusi Kajian Keilmuan

“Studi Kasus 4 Mahasiswa UGM Penggemar JAV”

Selasa, 24 Februari 2015 pukul 16.00-17.30 di Selasar Gedung C Lt. 2 FIB UGM

Pembicara     : Muhammad Naufal

Moderator     : Hendra Permana

Notulen        : Dima Hana Mahsunah

Selasa, 24 Februari 2015 kemarin, Departemen Kajian Keilmuan LEM FIB UGM berhasil menyelenggarakan diskusi ilmiah perdananya dengan judul “Studi Kasus 4 Mahasiswa UGM Penggemar JAV (Japan Adult Video)” yang diambil dari skripsi seorang alumni jurusan Sastra Jepang, UGM. Diskusi ini sempat menimbulkan kehebohan di kalangan mahasiswa, baik di FIB maupun fakultas-fakultas lain di UGM. Bahkan diskusi ini juga menjadi perbincangan di kalangan dosen-dosen. Karena temanya yang kontroversial, beberapa pihak sempat menganggap diskusi ini melanggar nilai dan norma sehingga secara terang-terangan mereka mengatakan ketidaksetujuannya.

Selama proses publikasi, diskusi ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak yang disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah artikel di laman internet yang di-publish oleh salah satu media cetak lokaldi Yogyakarta. Berita tersebut benar-benar tidak tepat dalam menyimpulkan isi skripsi yang diteliti oleh Mas Naufal. Hal ini tercermin dari headline yang menohok dan semata-mata untuk ‘menjual’ berita tersebut. Tema yang kontroversial dan berita di internet yang memperkeruh suasana, menjadikan diskusi ini hangat dibicarakan di kalangan mahasiswa, khususnya aktivis organisasi.

Saat membuka diskusi, Mas Naufal selaku penulis skripsi sekaligus pemateri dalam diskusi ini menyatakan bahwa segala rumusan masalah yang dikaji dalam skripsi ini bukanlah untuk membuktikan bahwa mahasiswa UGM adalah penggemar JAV, seperti yang diangkat oleh headline berita online tersebut. Mas Naufal juga menegaskan bahwa media yang mengangkat skripsinya menjadi berita online tersebut sama sekali tidak meminta izin darinya, dan juga telah mengemas ulang skripsi tersebut dari sudut pandang yang salah tanpa mencermati apa sebenarnya maksud Mas Naufal membuat skripsi tersebut.

Mas Naufal menjelaskan secara runtut kronologi yang menyebabkan skripsinya berhasil ‘tercium’ oleh media. Awalnya ada seorang mahasiswa Jepang yang melihat skripsi ini di Kantor Jurusan Sastra Jepang. Mahasiswa tersebut menganggap skripsi ini menarik karena mengangkat JAV yang merupakan produk kebudayaan asli negaranya. Selain itu, mahasiswa Jepang ini juga mempertanyakan alasan dari hidupnya JAV di Indonesia yang notabene mengilegalkan pornografi dan pornoaksi. Akhirnya ia pun memotret skripsi tersebut dan mengunggahnya di Twitter. Skripsi Mas Naufal terang saja menjadi topik pembicaraan yang hangat di sosial media. Beberapa orang yang tertarik bahkan sampai mengunduh versi digital skripsi ini di portal internet UGM yang membuat skripsi ini semakin menyebar luas. Dari sinilah, media mulai mencium ada hal menarik yang bisa diangkat sebagai berita di portal online mereka. Mas Naufal beranggapan bahwa media telah mendiskreditkan skripsinya dengan memilih diksi yang sembarangan untuk headline berita mereka. Terlebih lagi, nama lengkap Mas Naufal sebagai penulis skripsi juga dicantumkan secara lengkap dalam artikel tersebut.

Mas Naufal juga menggarisbawahi bahwa diskusi yang dilaksanakan ini adalah berdasarkan data valid dan bukan sekedar asumsi belaka. Bagi beberapa kalangan yang sempat salah mengartikan maksud dari diskusi ini, Mas Naufal juga menegaskan bahwa diskusi ini sama sekali tidak mengarah kepada konten video (yang dengan sangat jelas dilarang untuk dipertontonkan), namun lebih kepada pergeseran opini publik yang tidak berpengaruh bagi para penggemar JAV. Sebelum pornografi Jepang mulai populer di Indonesia, hampir semua masyarakat Indonesia telah mengidentikkan Jepang dengan film kartun seperti Doraemon, Shinchan, Chibi Maruko-chan dan lain sebagainya. Pendapat ini tercermin ketika di awal milenium bahwa mereka yang masuk jurusan Sastra Jepang seperti Mas Naufal ini, sering dianggap sebagai penggemar anime dan manga, sama halnya dengan anggapan jika mahasiswa yang masuk ke jurusan Bahasa Korea adalah penggemar K-pop dan drama Korea.

Akan tetapi, stigma di atas terpatahkan ketika suatu hari Mas Naufal berkenalan dengan seseorang. Saat itu, seseorang yang berkenalan dengan Mas Naufal ini menanyakan tentang dimana Mas Naufal kuliah dan jurusan apa yang dia ambil. Ketika mengetahui bahwa Mas Naufal mengambil Jurusan Sastra Jepang sontak orang tersebut langsung mengucapkan kata Miyabi. Miyabi sendiri banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai bintang film porno kenamaan Jepang. Hal inilah yang benar-benar mengganjal perasaan Mas Naufal dan menimbulkan pertanyaan besar dibenaknya. Oleh karena itu, beliau berinisiatif untuk mempelajari alasan dari munculnya persepsi tersebut. Ternyata setelah ditelusuri lebih lanjut, Mas Naufal menemukan bahwa sejak tahun 2008, Indonesia menjadi negara nomor 1 di dunia yang paling banyak mencari JAV melalui  Google (Google Trend).

Dari data dan fakta yang ditemukan, Mas Naufal beranggapan bahwa beliau tidak sepakat apabila permasalahan ini dianggap sebagai isu sekunder. Secara tegas beliau mengatakan jika isu-isu mengenai korupsi, gonjang-ganjing KPK vs Polri, polemik Freeport dan lain sebagainya memang  merupakan permasalahan yang harus diselesaikan.  Akan tetapi, beliau juga mempertanyakan apakah mahasiswa hanya berfokus perihal permasalahan-permasalahan makro sementara banyak anak-anak dan pemuda sebagai generasi penerus bangsa masih terjerat oleh bahayanya film porno?

Ditinjau dari segi penulisan skripsi, Mas Naufal menggunakan metode penelitian kualitatif. Beliau memilih empat responden dengan alasan bahwa metode penelitian ini tidak membutuhkan sampling dalam jumlah besar karena yang diperlukan memang kedalaman jawabannya. Alasan Mas Naufal memilih UGM sebagai lokus penelitian karena UGM merupakan kampus terbesar di Yogyakarta dan mahasiswa UGM sendiri berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Apalagi berdasarakan data temuan dari studi literatur bahwa Yogyakarta masuk ke dalam lima besar daerah yang paling banyak mengakses atau mencari JAV di seluruh Indonesia. Dengan kata lain, Yogyakarta termasuk dalam lima besar kota yang paling banyak mengakses atau mencari JAV di seluruh dunia. Selain itu, Mas Naufal memilih responden dari kalangan mahasiswa karena beliau beranggapan bahwa mahasiswa dianggap lebih terbuka dalam artian berprinsip dan opini yang dihasilkanpun lebih berimbang.

Secara singkat, berdasarkan presentasi yang disampaikan oleh Mas Naufal, keempat responden[1] di atas dapat diklelompokkan sesuai dengan kesehariannya. Pengelompokkan tersebut adalah sebagai berikut:

1.     Bima (Katolik, Paling Tua diantara semua informan, latar belakang agama pada keluarga kuat, Interaksi dengan masyarakat Jepang, Aktif dalam Kegiatan)

2.     Heri (Muslim, Alumni Pondok pesantren, Latar belakang agama cukup kuat, Interaksi dengan masyarakat jepang jarang, Aktif tapi tidak pernah memegang jabatan penting)

3.     Monta (muslim, keagamaan tidak terlalu kuat, Tidak terlalu suka dengan jepang-jepangan, tidak terlalu aktif dalam komunitas kampus, aktif dalam kegiatan bermusik, tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat jepang)

4.     Ravi (Muslim, Keagamaan Kuat, Dianggap Freak oleh teman-teman, aktif dalam kegiatan keagamaan sejak SMA, mengaku sudah mendalami segala sesuatu tentang kejepangan khususnya sejarah indonesia dan jepang dari SD.

 

Sementara itu dilihat dari pola pergaulannya, keempat responden tersebut menurut Mas Naufal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Bima (Sangat aktif, tidak merasa adanya pengaruh dengan JAV, berkenalan terlebih dahulu sebelum akhirnya tahu sama tahu)
  2. Heri (Aktif, menjadi bandar hingga sekarang, bekerjasama dengan bentuk uang untuk mendaftarkan akun berbayar )
  3. Monta (Tidak aktif, aktif di musik, sengaja mencari orang yang memang sama-sama memiliki JAV untuk bertukar koleksi)
  4. Ravi (aktif dalam kegiatan keagamaan, cenderung mengumpulkan sendiri, menjadi lebih terbuka setelah terjadi insiden)

Sedangkan untuk landasan teori bagi skripsinya, Mas Naufal menggunakan teori kritis yang dikemukakan oleh Max Horkheimer, dan untuk memperkuat landasan teorinya, beliau menggunakan teori tentang wujud kebudayaan (J.J Hoenigman), konsep representasi (Chris Baker), konsep budaya konsumen (Mike Featherstone) dan konsep budaya penggemar (John Storrey)

Sejarah singkat JAV dimulai ketika kebudayaan Jepang masih berkiblat penuh pada kebudayaan Tiongkok. Sebenernya produksi JAV ini merupakan intepretasi ulang tentang buku anatomi kesehatan yang disalahgunakan. Hingga pada akhirnya sekarang  JAV berkembang sebagai studio (rumah produksi) yang independen. Berbagai macam produk dari studio JAV inilah yang banyak masuk dan beredar di Indonesia secara ilegal melalui berbagai akses, terutama internet.

Setelah menjelaskan sejarah singkat JAV, Mas Naufal mengutarakan bahwa kebijakan pemerintah untuk mengeluarkan RUU APP (Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) serta kebijakan untuk ‘menutup’ akses situs-situs porno dirasa kurang efektif. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para responden, Mas Naufal mengatakan jika para penggemar mengetahui kode khusus untuk mengakses situs-situs porno yang diproteksi oleh pemerintah. Kode-kode khusus tersebut selanjutnya akan dibagikan kepada rekan-rekan penggemar JAV lainnya. Selain berbagi kode-kode khusus untuk meretas data dari internet, mereka juga sering bertukar koleksi video. Bahkan salah satu responden menyebutkan jika proses saling bertukar koleksi video porno bisa dilakukan dengan seseorang yang belum pernah dia kenal. Dalam perkenalan tersebut mereka juga memiliki cara komunikasi khusus untuk melakukan proses pertukaran koleksi tersebut.

Ironisnya, wacana RUU APP yang sempat didengunkan oleh pemerintah sehingga membuat heboh seluruh masyarakat Indonesia justru membuat konten-konten pornografi dan pornoaksi semakin populer. Pelarangan dan pembatasan konten-konten tersebut memicu rasa penasaran publik, yang mengakibatkan mereka semakin gencar untuk mencari tahu dan melihat langsung hal-hal tersebut. Film “Menculik Miyabi” yang menumpang ketenaran salah satu bintang porno Jepang tersebut di-release berdekatan dengan isu RUU APP yang sedang hangat kala itu. Mengapa ini bisa terjadi? Menurut Mas Naufal, pembatasan konten pornografi seperti ini tidak diimbangi dengan upaya-upaya yang efektif untuk memberantasnya, seperti penyuluhan dan pendidikan seks yang masih minim, filterisasi situs di internet yang tidak maksimal, dan lain sebagainya.

Dalam sesi tanya jawab terdapat lima orang penanya. Penanya pertama adalah Mas Hendrik dari Fakultas Filsafat. Beliau bertanya tentang pengaruh JAV terhadap tingkat pemerkosaan di Indonesia. Dengan diplomatis Mas Naufal menjawab bahwa sistem yang diterapkan di Jepang untuk untuk menekan peredaran video porno bukan dengan memproteksi situs-situs porno agar tidak bisa diakses, melainkan dengan upaya penyuluhan dan pendidikan seks yang lebih sering dan mendalam khususnya bagi pelajar atau pemuda.

Penanya kedua adalah Mas Venda dari Jurusan Antropologi Budaya. Beliau bertanya tentang rasa bersalah yang dimiliki penggemar ketika mengkonsumsi video porno, terutama JAV tersebut. Mas Naufal menjawab bahwa peranan video porno dianggap sebagai pelarian bagi para penggemarnya. Menurut Mas Naufal para penggemar video porno tersebut sebenarnya tahu apabila mengkonsumsi video porno tersebut merupakan perbuatan yang keliru.

Penanya ketiga adalah Mas Angga dari Jurusan Sastra Indonesia. Beliau bertanya tentang efektifitas RUU APP terhadap pemberantasan video porno khususnya JAV. Mas Naufal menjawab jika penerapan UU APP sia-sia apabila tidak ada upaya lebih lanjut dari pemerintah seperti pendidikan tentang seks yang lebih sering dan mendalam. Selain itu, pola pikir masyarakat Indonesia yang seakan paradoksal memandang seks juga ikut mempengaruhi UU APP semakin mubazir untuk diterapkan. Paradoksal di sini mengarah pada masyarakat Indonesia yang masih merasa tabu membahas isu-isu tentang seks, akan tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengn seks bisa dikatakan selalu laris di pasaran Indonesia, termasuk JAV.

Penanya keempat adalah Mas Ahmad Baihaki dari Jurusan Ilmu Sejarah. Beliau bertanya tentang alasan kenapa semua respondennya adalah laki-laki. Mas Naufal menjawab apabila pemilihan semua respondennya adalah laki-laki secara sederhana memang untuk mempermudah pengumpulan data. Meskipun tidak menutup kemungkinan juga apabila ada kaum hawa yang menjadi penggemar JAV.

Penanya kelima adalah Mbak Bernadetta dari Jurusan Sastra Indonesia.  Beliau bertanya tentang cara sederhana yang bisa dilakukan pemuda, terutama mahasiswa untuk menghindari praktik menyimpang tersebut. Dengan sederhana Mas Naufal menjawab bahwa cara yang paling mudah adalah dengan mengoptimalkan waktu untuk mencari kegiatan dan perlunya sifat selektif dalam memilih pergaulan, terutama komunitas.

KESIMPULAN

Dalam persepsi masyarakat Indonesia, Jepang sudah diidentikkan dengan kebudayaan vulgar yang terepresentasikan dari keberadaan JAV. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia merupakan konsumen dari produk-produk kebudayaan tersebut sehingga pergeseran citra tersebut dapat terjadi. Dari segi penulisan, skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan empat reponden (narasumber). Keempat responden tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Akan tetapi, terkait dengan konteks perderan JAV, mereka memiliki cara tersendiri untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut melalui komunikasi khusus layaknya sebuah komunitas dengan kode-kode tertentu. Pola baru peredaran JAV ini perlu diketahui untuk menentukan solusi bagi pemberantasan video porno secara keseluruhan. Sebab pola ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah untuk memberantas peredaran video porno dengan UU APP terlihat tidak efektif. Dari tulisan ini, penyuluhan dan pendidikan seks dianggap solusi yang lebih mumpuni untuk memberangus peredaran video porno, terutama JAV seperti yang dilakukan oleh negara Jepang.

 

“Menjadi kriminolog bukan berarti harus menjadi kriminal, menjadi peneliti JAV bukan berarti harus menjadi penggemar JAV.”

         M. Naufal

 

 

 

DOKUMENTASI KEGIATAN

S__516115

S__516112

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *